Oleh Al Imam Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah
Penerjemah: Ustadz Abu Sulaiman Amman Abdurrahman

Ucapan (Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab rahihamullaah) : Ashlu Dinil Islam Wa Qa’idatuhu ada dua:

Pertama:
*) Perintah untuk beribadah kepada Allah saja, tidak ada sekutu bagiNya
*) Penekanan akan hal itu
*) Muwaalaah (melakukan loyalitas) di dalamnya
*) Dan mengkafirkan orang yang meninggalkan tauhid

Saya berkata: Dan dalil-dalil ini di dalam Al Qur’an adalah lebih banyak untuk dihitung seperti firmanNya ‘Azza wa Jalla:

“Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” (TQS: Al Imran: 64)

Allah subhaanahu wa ta’aala memerintahkan NabiNya agar mengajak ahli kitab kepada makna Laa Ilaaha Illallaah yang di mana beliau mengajak orang-orang Arab dan umat yang lainnya kepada makna kalimat itu. Sedangkan kalimat itu[1] adalah Laa ilaaha illallaah yang ditafsirkan dengan firmanNya: “Bahwa tidak kita sembah kecuali Allah.”

FirmanNya; “Bahwa tidak kita sembah,” di dalamnya terkandung makna Laa illaaha yaitu penafian ibadah dari selain Allah. Sedangkan firmanNya: “Kecuali Allah,” adalah dikecualikan dalam kalimat ikhlash (tauhid), Allah subhaanahu wa ta’ala memerintahkan NabiNya agar menyeru mereka untuk mengkhususkan ibadah hanya kepada Allah dan menafikannya dari selainNya. Dan ayat-ayat semacam ini banyak sekali.

Dia menjelaskan bahwa ilaahiyyah itu adalah ibadah, sedangkan ibadah itu tidak layak sedikt pun ditujukan kepada selain Allah, sebagaimana firmanNya ‘Azza wa Jalla:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia.” (TQS: Al Israa: 23)

Makna Qodho adalah memerintahkan dan mewasiatkan, dua penafsiran yang maknanya satu.
FirmanNya: “Supaya kamu jangan menyembah,” terkandung di dalamnya makna Laa ilaaha, sedangkan firmanNya: “Selain Dia,” terkandung di dalamnya makna Illallaah, dan ini adalah tauhid ibadah yang merupakan dakwah/ajaran semua Rasul di kala mereka mengatakan kepada kaum-kaumnya, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia,” dan di dalam ibadah ini harus menafikkan syirik secara mutlak, berlepas diri darinya dan dari pelakunya, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla entang kekasihNya Ibrahim ‘alaihis salaam:

“Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya; ‘sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhanku yang telah menjadikanku.” (TQS: Az Zukhruf: 26-27)

Mesti adanya bara’ah (berlepas diri) dari peribadatan terhadap sesuatu yang disembah selain Allah. Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman tentang Ibrahim ‘alaihis salaam:

“Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah,” (TQS: Maryam: 48)

Wajib menjauhi/meninggalkan syirik dan pelakuknya serta berlepas diri (bara’ah) dari keduanya, sebagaimana yang ditegaskan lebih lanjut oleh firmanNya ‘Azza wa Jalla:

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mreka berkata kepada kaum mereka: ‘sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kakfiran)mud an telah nyata antara kamu dan kami permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (TQS: Al Mumtahanah: 4)

Sedangkan orang-orang yang bersama Ibrahim itu adalah para Rasul sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jarir.

Ayat ini menunjukkan atas semua yang telah disebutkan oleh syaikh kami (Muhammad bin abdul wahhab) rahimhullaah, yaitu penekanan akan tauhid, penafian syirik, berlaku loyal kepada ahli tauhid dan mengkafirkan orang yang meninggalkan tauhid ini dengan sebab dia melakukan syirik yang berlawanan dengannya, karena sesungguhnya orang yang melakukan syirik[2] maka dia itu telah meninggalkan tauhid, sebab keduanya adalah hal yang kontradiksi lagi tidak mungkin bersatu, kapan saja syirik didapatkan maka berarti tauhid hilang,[3] dan Allah ‘Azza wa Jalla telah befirman tentang status orang yang berbuat syirik:

“Dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalanNya. Katakanlah: ‘bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu untuk sementara waktu, sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.’” (TQS: Az Zumar: 8)

Allah ‘Azza wa Jalla mengkafirkannya dengan sebab dia mengangkat tandingan, yaitu para sekutu dalam ibadah, dan ayat-ayat semacam ini banyak sekali, sehingga:

“Orang itu tidak dikatakan muwahhid kecuali dengan menafikkan syirik, berlepas diri darinya, dan mengkafirkan pelakunya.”[4]

Kemudian beliau rahimahullaah berkata:

Kedua:
· Peringatan dari melakukan syirik dalam ibadah kepada Allah
· Kecaman yang keras dalam hal itu
· Melakukan permusuhan di dalamnya
· Dan mengkafirkan orang yang melakukannya

Maka bangunan tauhid tidak bisa tegak kecuali dengan ini semua, ini adalah agama para Rasul, mereka memperhatikan kaumnya dari syirik, sebagaimana firmanNya ‘Azza wa Jalla:

“Sesungguhnya Kami telah mengutus para Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu,” (TQS: An Nahl: 36)

Dan firmanNya ‘Azza wa Jalla:

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasannya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan aku,’” (TQS: Al Anbiya: 25)

Dan firmanNya ‘Azza wa Jalla:

“Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab yang besar.” (TQS: Al Ahqaf: 21)

Perkataan syaikh: “Dalam ibadah kepada Allah” ibadah adalah nama yang mencakup segala ucapan dan perbuatan yang dicintai dan diridlai Allah, baik yang sifatnya bathin atau pun dhahir.
Perkataan syaikh: “Kecaman yang keras dalam hal itu”, ini ada di dalam Al Kitab dan As Sunnah, sebagaimana firmanNya ‘Azza wa Jalla:
“Maka segeralah kembali (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (TQS: Adz Dzariyat: 50-51)

Seandainya tidak ada kecaman yang pedas (akan syirik ini) tentu tidak akan ada penyiksaan dan penindasan dahsyat yang dilakukan orang-orang Quraisy terhadap Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, sebagaimana rincian dijelaskan dalam sirah (sejarah). Sesungguhnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memulai mengecam mereka dengan mencaci agama mereka dan menjelek-jelekkan nenek moyang mereka.

Perkataan syaikh: “Melakukan permusuhan di dalamnya”, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

“Maka bunuhlah orang-orang musyrikin di mana pun mereka berada, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah mereka di tempat pengintaian,” (TQS: At Taubah: 5)

Dan ayat-ayat yang berkenaan dengan hal ini sangat banyak sekali, seperti firmanNya ‘Azza wa Jalla:

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah,” (TQS: Al Anfal: 39)

Fitnah di sini adalah syirik, sedangkan:

“Allah ‘Azza wa Jalla memberi cap kafir bagi orang-orang yang menyekutukannya dalam banyak ayat-ayat yang tidak terhitung, maka harus dikafirkan juga mereka itu (oleh kita), ini adalah konsekuensi Laa ilaaha illallaah kalimat ikhlash, sehingga maknanya tidak tegak kecuali dengan mengkafirkan orang yang menjadikan sekutu bagi Allah dalam ibadahnya”

Sebagaimana dalam hadits yang shahih:

“Siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah dan kafir kepada segala yang dismebah selain Allah, maka dia itu haram darahnya dan hartanya, sedangkan perhitungannnya adalah atas Allah,”

Sabdanya: “Dan kafir kepada segala yang disembah selain Allah,” merupakan penguat akan penafian. Maka orang itu tidak ma’shum (terjaga/haram) darah dan hartanya kecuali dengan hal itu, dan seandainya dia itu ragu atau bimbang amak hartanya dan darahnya tidak haram. Hal-hal ini merupakan pangkal tegaknya tauhid, karena Laa ilaaha illallaah diberi batasan/syarat di dalam hadits yang banyak dengan batasan-batasan yang sangat berat, yaitu:

*) Ilmu (mengetahui maknanya)
*) Ikhlash
*) Shidqu (jujur)
*) Yakin
*) Dan tidak ragu-ragu

Sehingga orang tidak dikatakan muwahhid kecuali dengan kumpulnya syarat-syarat ini semua dan disertai dengan:

*) Meyakininya
*) Menerimanya
*) Mencintainya
*) Melakukan mu’aadah (permusuhan) di dalamnya dan muwaalaah (loyalitas di dalamnya)

Maka dengan terkumpulnya semua yang telah disebutkan oleh syaikh kami (syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab) rahimahullaah, maka tauhid itu baru tercapai.

Kemudian beliau rahimahullaah berkata:

Orang-orang yang menyalahi dalam hal ini bermacam-macam:

Ø Orang yang paling besar penyimpangannya adalah orang yang menyalahi dalam semua itu

Dia menerima syirik dan meyakininya sebagai ajaran (keyakinan), dia mengingkari tauhid dan meyakininya sebagai kebathilan, sebagaimana halnya mayoritas manusia. Dan penyebabnya adalah kejahilan akan kandungan Al Kitab dan As Sunnah tentang ma’rifah tauhid dan apa yang menafikkannya berupa syirik, tandingan, mengikuti hawa nafsu, dan apa yang diwariskan nenek moyang, seperti keadaan orang-orang sebelum mereka dari kalangan musuh-musuh para Rasul, di mana mereka menuduh kaum muwahhidin dengan dusta, bohong, mengada-ada dan perbuatan tercela, dengan hujjah mereka adalah:

“(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapatkan nenek moyang kami berbuat demikian” (TQS: Asy Sya’araa: 74)

Macam orang ini dan macam orang sesudahnya[5], mereka itu telah mengurai makna yang ditujukan oleh kalimah ikhlash, dan tujuan darinya, serta makna yang terkandung di dalamnya yaitu agama yang di mana Allah tidak menerima agama selain itu. Itu adalah Islam yang dengannya Allah mengutus para Nabi dan para Rasul semuanya, serta seluruh dakwah mereka bersatu di atasnya, sebagaimana yang tidak samara lagi dalam kisah-kisah yang Allah ceritakan tentang mereka di dalam KitabNya.

Kemudian beliau (syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab) rahimahullaah berkata:

Ø Di antara manusia ada orang yang beribadah kepada Allah saja, namun dia tidak mengingkari syirik dan tidak memusuhi pelakunya

Saya berkata: Sesungguhnya sudah termasuk hal yang maklum bahwa orang yang tidak mengingkari syirik berarti dia itu tidak mengetahui tauhid dan tidak bertauhid. Sedangkan engkau sudah mengetahui bahwa tauhid itu tidak terlaksana/terealisasi kecuali dngan menafikan syirik dan kafir terhadap thaghut yang telah dituturkan dalam ayat yang lalu.

Kemudian syaikh rahimahullaah berkata:

Ø Dan di antara mereka ada yang memusuhi orang-orang musyrik, namun tidak mengkafirkannya

Macam orang ini juga tidak merealisasikan makna Laa ilaaha illallaah berupa penafian syirik dan konsekuensinya yaitu mengkafirkan orang yang melakukannya setelah ada penjelasan[6] secara ijama’, dan ini adalah kandungan surat Al Ikhlash, Al Kafirun, dan firmanNya dalam surat Al Mumtahanah:

“Kami ingkari (kekafiran)mu”

Sedangkan orang yang tidak mengkafirkan orang yang telah dikafirkan oleh Al Qur’an, maka dia itu telah menyalahi apa yang dibawa oleh para Rasul berupa tauhid dan konsekuensinya.

Kemudian beliau rahimahullaah berkata:

Ø Dan ada di antara mereka ada orang yang tidak mencintai tauhid dan tidak pula membencinya

Penjelasannya: Bahwa orang yang tidak mencintai tauhid berrati dia itu tidak bertauhid, karena tauhid adalah agama yang diridlai bagi hamba-hambaNya, sebagaimana firmanNya ‘Azza wa Jalla:

“dan telah Kuridlai Islam sebagai agama kalian” (TQS: Al Maidah: 3)

Seandainya dia itu ridla dengan apa yang diridlai Allah dan mengamalkannya, tentulah dia mencintainya. Dan kecintaan ini harus ada kerena Islam itu tidak (bisa tegak) tanpanya, sehingga tidak ada Islam kecuali dengan mencintai tauhid.

Syaikh Ibnu Taimiyyah rahimahullaah berkata: Ikhlash adalah mencitai Allah dan menginginkan wajahNya, maka siapa yang mencintai Allah, pasti dia itu mencintai agamaNya, dan bila tidak mencintainya maka dia tidak cinta kepada Allah. Dengan adanya ,ahabbah (kecintaan) itu kalimat ikhlash ada terbukti, sedangkan hal itu merupakan bagian dari syarat-syarat tauhid.

Kemudian syaikh rahimahullaah berkata:

Ø Di antara mereka ada orang yang tidak membenci syirik dan tidak mencintainya

Saya berkata: Orang yang seperti ini tidak menafikkan apa yang dinafikkan oleh Laa ilaaha illallaah, berupa syirik dan kufur kepada apa yang disembah selain Allah, serta berlepas diri (bara’ah) darinya, maka orang seperti ini sama sekali bukan orang Islam, darah dan hartanya tidak ma’shum (haram) sebagaimana yang ditujukan oleh hadits yang lalu.

Dan perkataan beliau rahimahullaah:

Ø Di antara mereka ada orangnya yang tidak mengetahui syirik dan tidak mengingkarinya, serta tidak menafikkannya

Sedangkan orang itu tidak dikatakan muwahhid kecuali:

· Menafikkan syirik
· Berlepas diri darinya
· Berlepas diri dari pelaku syirik
· Serta mengkafirkan mereka itu

Dan dengan ketidaktahuan akan syirik ini berarti dia tidak merealisasikan sedikit pun dari makna Laa ilaaha illallaah, sedangkan orang yang tidak menegakkan makna dan kandungan kalimat ini maka dia itu sama sekali bukan orang Islam, karena dia tidak mendatangkan (makna) kalimat ini dan kandungannya dari dasar ilmu, yakin, jujur, ikhlash, cinta, qabul, dan inqiyad.

Dan orang macam ini sama sekali tidak membawa sedikit pun dari syarat-syarat itu semuanya, dan bila dia itu mengucapkan Laa ilaaha illallaah maka dia itu tidak mengetahui makna dan apa yang dikandung oleh kalimat itu.

Kemudian beliau rahimahullaah berkata:

Ø Di antara mereka ada orang yang tidak mengetahui tauhid dan tidak mengingakarinya

Saya katakana: Orang ini sama seperti sebelumnya, mereka sama sekali tidak merealisasikan tauhid yang untuknya mereka diciptakan, yaitu agama yang dengannya Allah mengutus para Rasul.

Dan keadaan mereka ini sama dengan keadaan orang-orang yang Allah firmankan:

“Bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak)” (TQS: Al Furqan: 44)

Dan perkataan beliau rahimahullaah:

Ø Dan di antara mereka—dan ini yang paling berbahaya—ada orang yang mengamalkan tauhid, namun dia tidak mengetahui kedudukannya, tidak membenci orang yang meninggalkannya dan tidak mengkafirkan mereka itu

Ungkapan beliau: “dan ini paling berbahaya” karena dia itu tidak mengetahui kedudukan apa yang dia amalkan, dan dia tidak mendatangkan hal-hal yang membenarkan/meluruskan tauhidnya, berupa syarat-syarat yang berat yang harus terpenuhi, karena engkau telah mengetahui bahwa tauhid itu menuntut penafian syirik, berlepas diri darinya, memusuhi pelakunya, dan mengkafirkan mereka itu dengan tegaknya hujjah atas mereka.[7]

Orang macam ini terkadang terpedaya dengan keadaannya, padahal dia itu tidak merealisasikan syarat-syarat dan konsekuensi kalimah ikhlash tersebut nafyan wa itsabaatan.

Dan begitu juga perkataan beliau rahimahullaah:

Ø Di antara mereka ada yang meninggalkan syirik dan membencinya, namun dia tidak mengetahui kedudukannya

Ini lebih dekat daripada sebelumnya, namun dia tidak mengetahui kedudukan syirik, karena sesungguhnya dia seandainya mengetahui kedudukannya tentu dia melakukan apa yang ditujukan oleh ayat-ayat yang muhkamat, seperti ungkapan Al Khalil (Ibrahim):

“Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhanku yang telah menjadikanku,” (TQS: Az Zukhruf: 26-27)

Dan perkataanya:

“Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingakri (kekafiran)mu, dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya,” (TQS: Al Mumtahanah: 4)

Maka orang yang telah mengetahui syirik dan meninggalkannya, dia itu harus mengambil sikap komitmen dalam walaa’ dan baraa’ dari yang menyembah dan dari yang disembah, membenci syirik, membenci pelakunya, dan memusuhinya.

Dan dua macam orang ini adalah mayoritas pada keadaan orang yang mengaku Islam, sehingga karena kejahilan mereka akan hakikat syirik ini maka muncullah dari mereka hal-hal yang menghalangi terealisasinya makna kalimah ikhlash (tauhid) dan tuntutannya sesuai dengan kadar wajibnya yang dengannya seseorang bisa dikatakan muwahhid.

Sungguh banyak sekali orang-orang yang terpedaya lagi jahil akan hakikat agama ini. Dan bila engkau telah mengetahui bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah mengkafirkan pelaku-pelaku syirik dan memvonis mereka dengan kekafiran di dalam banyak ayat yang muhkamat, seperti firmanNya ‘Azza wa Jalla:

“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir,” (TQS: At Taubah: 17)

Dan begitu juga di dalam As Sunnah, maka syaikhul Islam rahimahullaah berkata:

Ahlu Tauhid dan sunnah mereka itu membenarkan para Rasul dalam apa yang mereka kabarkan, mentaatinya dalam apa yang dengannya mereka diperintahkan, menjaga apa yang mereka katakana dan memahaminya serta mengamalkannya, mereka menafikkan darinya tahrif yang dilakukan oleh orangorang yang ghuluw, intihal yang dilakukan oleh mubthiluun, dan ta’wil yang dilakukan oleh orang-orang jahil, serta mereka memerangi orang-orang yang menentang mereka dalam rangka taqarrub kepada Allah dan untuk mendapatkan pahala dariNya bukan dari mereka.

Sedangkan orang-orang jahil dan yang berlebih-lebihan, mereka itu tidak membedakan antara apa yang diperintahkan dengan apa yang dilarang darinya, tidak membedakan antara apa yang benar bersumber dari mereka dari apa yang dusta atas nama mereka, mereka tidak memahami hakikat maksud mereka itu, dan mereka tidak berusaha untuk mentaatinya, bahkan mereka itu jahil akan apa yang dibawa oleh para Rasul dan justru mengagung-agungkan tujuan-tujuan mereka.

Saya berkata: Apa yang dituturkan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah itu sama seperti keadaan dua macam orang tadi.

Masih ada masalah ungkapan yang pernah dilontarkan oleh syaikul Islam Ibnu Taimiyyah, yaitu beliau pernah tidak melakukan takfir mu’ayyan secara langsung, karena suatu sebab yang beliau rahimahullaah sebutkan mengharuskan beliau untuk tawaqquf dari mengkafirkannya sebelum penegakkan hujjah atasnya.

Beliau (Syaikh Ibnu Taimiyyah) rahimahullaah berkata:

Kita mengetahui dengan pasti bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mensyari’atkan bagi seorang pun untuk menyeru orang yang sudah meninggal dunia, baik itu para Nabi, orang-orang shalih atau yang lainnya, sebagimana beliau tidak pernah mensyari’atkan kepada umatnya untuk sujud terhadap orang yang sudah mati atau sujud menghadapnya dan yang lainnya. Bahkan kita secara pasti mengetahui bahwa beliau telah melarang syirik yang telah diharamkan oleh Allah dan rasulNya, namun karena meratanya kajahilan[8] dan jarangnya pengetahuan akan peinggalan risalah pada banyak orang-orang muta’akhkhirin, maka tidak mungkin mengkafirkannya dengan hal itu sehingga dijelaskan apa yang dibawa oleh Rasulullah dari apa yang menyalahinya.

Saya berkata: Beliau rahimahullaah menyebutkan sebab alasan yang memaksa beliau untuk tidak mengkafirkan secara ta’yin secara khusus kecuali setelah ada penjelasan dan terus ngotot, (penyebab beliau tawaqquf itu) adalah karena beliau itu telah menjad ummatan wahidatan (satu umat dalam satu sosok orang), dan karena di antara para ulama’ ada orang yang mengkafirkannya karena beliau melarang mereka dari berbuat syirik, sehingga beliau tidak mungkin memperlakukan mereka kecuali dengan apa yang telah beliau lontarkan itu, sebagaimana yang telah pernah dialami oleh syaikh kami syaikh Muhammad ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullaah di awal-awal dakwahnya, sesungguhnya beliau bila mendengar orang-orang menyeru Zaid ibnu Al Khaththab, beliau (syaikh) berkata: “Allah itu lebih baik dari Zaid”, ini untuk membiasakan mereka dalam menafikan syirik dengan kata-kata yang lembut, untuk tujuan dakwah dan supaya tidak membuat orang lari. Allah ‘Azza wa Jalla lebih Mengetahui.

—————————————————————————————————————
[1] Maksudnya kalimat yang ada di dalam ayat tadi. Pent.
[2] Apa pun alasannya tanpa kecuali orang jahil, muqallid, muta’awwil, atau mujtahid. Pent.
[3] Tidak ada perbedaan antara dia itu jahil atau tahu, Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz berkata setelah mejelaskan status orang yang menyeru dan istighatsah dengan orang yang sudah mati padahal mereka itu jahil, beliau rahimahullaah menjelaskan bahwa dia itu musyrik kafir dan setelah itu beliau berkata: ‘Dan tidak usah dihiraukan akan status mereka itu orang-orang jahil, bahkan wajib diperlakukan layaknya orang-orang kafir hingga taubat kepada Allah dari hal itu”. (Tuhfatul Ikhwan no:6). Pent.
[4] Al Imam Al Barbahariy berkata dalam Syarhus Sunnahnya:
”Doa tidak dikeluarkan seorang pun dari Ahlul Kiblah dari Islam sehingga ia menolak satu ayat dari Kitabullah, atau menolak sebagaian dari atsar-atsar Rasulullah, atau shalat kepada selain Allah, atau menyembelih untuk selain Allah, dan bila mereka melakukan satu dari hal itu maka telah wajib atas kamu untuk mengeluarkannya dari lingkungan Islam”
Lihatlah seorang arab badui yang selama ini bersama kaumnya mengucapkan dua kalimah syahadah, namun perbuatan mereka itu bertentangan dengan tauhid, terus ada muthawai (ustadz kalau di kita) yang tetap menamakan mereka sebagai orang Islam. Dia (orang badui) itu setelah mengetahui dakwah syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab dan konsekuensinya dia langsung mempraktekannya, Syaikh Muhammad menuturkan tentang dia dalam Syarah Sittati Mawadli Minas Sirah di akhir sekali:
”Sungguh indah sekali apa yang diucapkan oleh orang arab badui tatkala dia telah tiba kepada kami dan mendengar sedikit tentang Islam (maksudnya yang diajarkan oleh Syaikh yang berbeda dengan yang mereka pegang selama ini, pent), dia langsung berkata: ’saya bersaksi bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang kafir—yaitu dia dan seluruh orang-orang badui—dan saya bersaksi bahwa muthawwi’ yang menamakan kami umat Islam, sesungguhnya dia kafir juga!’”. Pent.
[5] Maksudnya macam-macam orang yang akan disebutkan. Pent.
[6] Ini untuk takfir, Karena takfir terjadi setelah ada risalah dan dakwah, dan orang yang berada di suatu masa dan negeri yang di mana dakwah tauhid tidak ada dan kebodohan merajalela terus mereka itu melakukan kemusyrikan, maka mereka itu tidak dikafirkan terlebih dahulu sebelum diingatkan, ada pun nama musyrik maka itu sudah menempel pada mereka, karena status musyrik itu tidak ada hubungannya dengan risalah atau bulughul hujjah, berbeda dengan status kafir. Ada kalau orang melakukan syirik pada saat dakwah tauhid tegak, dunia terbuka, informasi mudah, dan kemungkinan mencari ada, maka orang yang menyekutukan Allah ’azza wa jalla itu divonis musyrik kafir murtad sekalipun dia jahil, karena dia berpaling dan tidak mau belajar. Silahkan lihat Al Mutammimah Li Kalaami Dakwah fi Mas’alatil Jahli Fisy Syirkil Akbar, Ali Al Khudlar dan Hukmi Takfiril Mu’ayyan wal Frqu Baina Qiyamil Hujjah wa Fahmil Hujjah, Imam Ishaq Ibnu Abdirrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhab. Pent.
[7] Syaikh Ishaq Ibnu Abdirrahman Ibni Hasan Ibni Muhammad ibnu Abdil Wahhab rahimahullaah berkata: “Dan hujjah itu sudah tegak atas manusia dengan Rasul dan Al Qur’an.” (Hukmu Takfiril Mu’ayyan dan Aqidatul Muwahhidin: 150). Dan beliau berkata lagi: ”Dan perhatikanlah ungkapan syaikh (Muhammad ibnu Abdil Wahhab) rahimahullah bahwa setiap orang yang telah sampai Al Qur’an kepadanya maka hujjah itu sudah tegak atasnya meskipun dia tidak paham akan hal itu.” (156). Pent.
[8] Yang beliau tawaqquf itu adalah vonis kafir, karena zaman itu beliau hukumi dengan zaman fathrah, beliau berkata dalam Al fatawaa: “Bila ilmu melemah, dan kemampuan (untuk mencarinya) juga melemah, maka masa itu menjadi masa fatrah”. Dan para Imam dakwah Najdiyyah telah ijma’ bahwa masa munculnya Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab adalah zaman fatrah, dan bahwa zaman munculnya syaikh Ibnu Taimiyyah adalah zaman fatrah dan meratanya kejahilan. Lihat Al Haqaa-iq Ali Al Khudlar: 15, sehingga tidak dikafirkan terlebih dahulu sehingga diberi penjelasan, namun ini berbeda dengan musyrik, nama ini menempel dengan langsugn saat orang menyekutukan Allah tanpa ada hubungannya dengan hujjah risaliyyah, Syaikhul Islam berkata: ”Nama musyrik adalah telah tetap sebelum ada risalah, karena orang ini menyekutukan Tuhannya dan menetapkan tandingan bagiNya.” Al Fatawa: 20/38. Pent.