Keterangan bahwasanya hukum dengan arti pembuatan undang undang adalah kafir dengan sendirinyaberbeda dengan Hukum karena kedholiman dalam memutuskan perkara, padanya terdapat keterangan. Dan bahwa kekufuran taghut sekarang dan penghambanya terjadi sejak pertama

Dalam rangka mencabut subhat murji’atul asri, para pengekor Jahm dan Basyar Al-Muriisii, tinggallah kita sekarang untuk mengingatkan saudara yang bertauhid kepada ma’na berhukum kepada selain yang diturunkan Allah dimana Allah menghukumi kepada pelakunya sebagai Syirik, kafir, yang mengeluarkan dari ajaran tanpa menyebutkan apakah pelakunya menghalalkan, meyakini, atau yang lainnya berlaku sebagai pembatas …dan bahwasanya Allah menentukannya sebagai perundang undangan yang umum yang harus ditaati yang Allah telah menjadikannya juga sebagai acuan bagi para taghut asri dan para pengikutnya dari kalangan perwakilan rakyat.

Bahwa tasri’ yang mereka lakukan juga merupakan bagian dari perilaku kafir yang murni yang bisa mengkafirkan pelakunya tanpa harus dikatakan kepadanya dia telah menghalalkan, atau tidak menghalalkan, dia meyakini atau tidak meeyakini. Berbeda dengan kedholiman dalam memutuskan dan menentukan ketetapan dan hukum dengan dia masih menetapi islam dan syareat syareatnya serta tidak mengganti sesuatupun dari syareat itu. …ini memiliki penjabaran yang mashur dan yang dikenal antara keyakinan yang menghalalkan atau hanya berlaku maksiat mengikuti hawa nafsu atau sahwat dan yang lainnya…penjabaran yang terakhir terjadi pencampur adukan padanya oleh murji’atul asrii dan para syaikh syaikh mereka terhadap umat dan terhadap manusia secara keseluruhan, dengan cara mendudukkannya sebagai kekufuran macam yang pertama yang dihasilkan oleh para taghut modern dan menggambarkan kesalahan mereka yang nyata sebagai kema’siatan saja.tidak mengkafirkan pelakunya kecuali dengan menghalalkan atau menolak (istihlal au aljuhud)

Sudah seharusnya kamu mengetahui ma’na tasri’ yang berkaitan dengan syirik dan tauhid, dan kamu memahami perbedaan antaranya dan antara hukum yang berkait dengan cabang untuk melepaskan darimu pencampur adukan oleh murji’atul asri dan pembentukan pemahaman oleh mereka yang bisa jadi menimpa bagi kamu dari perkataan salafketika mengumpulkan antara (berhukum dengan selain yang diturnkan Allah) dengan sebagian dosa yang tidak mengkafirkan yang telah dinamai Rasulullah  sebagai kekafiran. Dan mereka memasukkan itu semua dalam kufur asghor yang tidak mengkafirkan pelakunya kecuali bila dia menghalalkan- sesungguhnya mereka bermaksud berhukum disini adalah yang tidak mengeluarkan dari millah bukan berma’na tasri’ (pembuatan undang undang) tabdiily ( mengganti undang undang) yang dihasilkan oleh para taghut asrii…

Diantara jenis ini(maksudnya perkataan salaf yang dicampur adukkan / diplintir) adalah perkataan Ibnu alQoyyim hlm (61) daari kitab Asholah: “apabila menghukumi dengan selain yang diturunkan Allah atau melakukan apa yang dinamai rasulullah sebagai kekafiran sedang dia mentaati/berkomitmen dengan islam dan syareat syareatnya maka dia telah menegakkan kekufuran dan keislaman” dst perhatikan!!perkataannya : sedang dia mentaati//berkomitmen dengan islam dan syareatnya (wa huwa multazimun lil islam wa syara’iihi). Kamu bisa mengenali bahwasanya mereka tidak bermaksud seperti perkataan perkataan ini berhukum kepada selain yang diturunkan Allah dalam bentuk pembuatan undang undang kekufuran seperti dizaman kita ini.

Dan telah menerangkan seperti ini penjabaran dan perbedaan oleh Syaikh Sulaiman bin Absullah bin Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitabnya: (Attaudhih ‘an tauhiidi Al Khollaq fi jawaabi Ahli Al ‘iraaq) hlm 141; maka dia membagi hukum dengan selain yang diturunkan Allah kepada dua hal:
Jenis syirik yang berlawanan dengan Tauhid dan jenis dalam bentuk furu’ (cabangnya).

Beliau menerangkan bahwa macam yang pertama ( yaitu syirik yang berlawanan dengan tauhid) adalah kkufur yang nyata tidak ada keimanan padanya.
Adapun macam kedua disebutkan rincian yang dikenal terbagi menjadi dua macam.
– jika dia tidak mengikrarkan dengan lisan dan dia dan menyembunyikan dalam hati dia juga termasuk kafir hakiki (kafir yang sesungguhnya) tidak ada iman padanya.
– Adapun yang mengakui dengan hatinya, mengucapkan dengan lisannya dalam berhukum kepada Allah akan tetapi perbuatannya berlawanan dengannya secara dhohir dalam hal furu’ (bentuk cabang bukan pokok iman) maka dia tidak kafiryang memindahkan seseorang dari millah. Disebutkan disini satu atsar yaitu perkataan Tawush : melakukan hukumyang bersifat cabang dengan hukum selain yang diturunkan Allah dengan mtetap mengikrarkan hukumnya dan tetap cinta kepadanya <tidak memindahkan seseorang dari millah. Dan beliau menerangkan macam ini pada tempat laindalam kitabnya ( 143) dengan perkataannya: dan tidak ada hukum dengan apa yang diturunkan Allah dalam hal furu’ (yag tidak dari pokok agama) disertai dengan pengakuan dengan hukum dalam hatinya dan perkataannya, dan mencintainya dan memilihnya, dan melaksanakannya pada keduanya. Dst

Renungkan dengan pemisahan mereka antara hukum yang berkait dengan syirik dan tauhid ( maksudnya tasri’) dan hukum dalam hal furu’ (cabang) dengan ma’na : kedholiman dalam keputusan tidak melakukan tasri’ dan istibdaal, dan tidak istihlal.

Sebagaimana murji’atul asri mencampur adukkan karena bodoh, mencampur adukkan, atau menyembunyikan ( tadlis) lalu mereka mendudukkan macam yang terakhir atas taghur dizaman kita yang melakukan tasri’ ( pembuatan undang undang). Begitu juga khowarij mencampur adukkan , dan bermaksud menjadikan macam yang terakhir seperti yang pertama walaupun tidak diikuti dengan penghalalan dan Juhud.
Oleh karena ituberkata Syaikh Sulaiman pada bentuk yang pertama: “khowarij telah melebarkan sayab kepada keumuman karena dhohir ayat dan mereka mengatakan bahwasanya itu adalah nas yang menyebutkan siapa yang berhukum dengan selain Allah maka dia kafir. Dan setiap orang yang berdosa dia telah berhukum dengan selain yang diturunkan Allah maka dia menjadi kafir. Ijma’ para Ahli sunnah wal jama’ah bersepakat menyelisihi pemahaman itu. Sedang kami tidak mengkafirkan kecuali siapa yang tdak berhukum dengan apa yang diiturunkan Allah dari Tauhid bahkan menghukumi dengan yang berlawanannya (tauhid) melakukan syirik, dab berwali kepada pelaku pelaku (syirik) dan memenangkan mereka atas orang yang bertauhid”.dst

Aku mengatakan: demikian juga kita, sesungguhnya yang kita kafirkan adalah orang yang berhukum kepada selain yang diturunkan Allah. Tidak mengkafirkan mereka karena tidak berhukum hanya dalam hal hal yang bersifat cabang (furu’) yang bermakna kedholiman dalam menetapkan suatu hukum tidak dari orang yang tidak menghalalalkan, berbeda dengan yang difahami orang khowarij. Akan tetapi kita mengkafirkan mereka karena mereka berhukum dengan apa yang tidak di turunkan Allah dari macam undang undang syirik yang membatalkan atas keaslian tauhid. Karena dia mengikuti hukum atau syareat selain syareat Allah . dan mencari agama dan syareat selain agama dan syareat Allah..juga karena perwalian mereka kepada ahlu syirik, dan paara tgaghutnya dalam berbagai warna mereka, dan melawan atas orang yang bertauhid.

Maka pahamilah hal ini dan jangan menjadi orang yang tertipu atas pengelabuhan mereka para murji’atul asri dan orang orang yang kerasukan mereka. Dan bedakan antara apa yang dikafirkan olehnya para rasul rasul dan para pengikutnya. Dan terangkan pula apa yang dikafirkan dengannya oleh khowarij dan para syaikh kelompok mereka.

Kemudian ketahuilah bahwa membuat undang undang (tasri’ ) dan mengganti undang udang (istibdaal) adalah kufur mujarrod ( telah kafir dengan perilaku itu sendiri) tidak dikatakan padanya. Apakah dia menghalalkan, atau meyakini, atau menolak? Batsan batasan ini hanya bisa dilakukan pada macam yang terakhiryang para khowarij melakukan pencampuran padanya.

Dan ahlu kitab yang Allah turunkan kepadanya ayat ( mereka menjadikan orang orang alim dan rahib rahib mereka menjadi rabb selain Allah) [Attaubah 31]. Mereka karena tasri’ (membuat undang undang) dan taat kepada para pembuat hukum ( musyarri’iin) dalam hal itu dan mengikuti mereka dalam perundang undangan mereka. Dan tidak dikatakan mereka kafir karena keyakinan mereka bahwa hal ituharam secara hakiki atau boleh secara hakiki. Atau mereka menghalalkan perundang undangan ( maksudnya adalah penghalalan hati) atau mereka meyakini bahwa mereka memilii hak dalam uluhiyah dan rububiyah.

Berkata Syaikh Asyadhali dalam ( haddul islam wa hakiiqotu al-imaan) hlm 431: sesungguhnya makda dari Ahallau au harromuuhu 9menghalalkan atau mengharamkannya) bukanlah maknanya dalam keyakinan yang bermakna ilmu tentang kebenaran sesuatu dan kabar tentangnya akan tetapi yang di maksud adalah amal melakukan tuntutan pengharaman mereka dan penghalalan mereka dari hukum dan berhukum kepadanya.

Orang Yahudi ketika mereka mengganti hudud (batasan hukuman ) zina, mereka mencari baik dan mengumpulkannya dengan hukum yang lain , tidak meyakini diperbolehkan zina, ataupenghalalannya, bahkanmereka meyakini pengharamannya yang telah diharamkan allah kepadanya. Dan mereka tidak menyangka atau mengatakan bahwa hukum yang mereka telah letakkan itu datang dari Allah. Dan tidak mengatakan bahwasanya hukum yang mereka buat lebih baik dari hukum Allah, atau lebih adil. Juga mereka tidak menerangkan akan penghalalan mereka atau mereka meyakini bahwa mereka memiliki hak tasri’ (pembuatan undang undang) atau persoalan yang semisalnya…mereka telah kafir hanya dengan melakukannya mereka, dan mengumpulkannya mereka, dan mencari kebaikan pada hukum dan tasri; selain hukum Allah dan tasri’ahu ( mengundangkannya). Mereka dianggap sebai rabb bagi yang mentaati mereka, dan pengikutnya dan sama sama melakukan tasri’ itu.

Berkata Assyaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah dalam kitabnya tauhid: “barang siapa yang mentaati Ulama’ dan Umara’ dalam mengharamkan apa yang dihaalalkan Allah dan penghalalan apa yang diharamkan Allah maka mereka ini telah menjadikan para ulama dan umara itu sebagai rabb selain Allah”. Dst

Maka orang yang mengikuti kepada perundang undangan yang dikeluarkan oleh orang yang membuat undang undang yang membatalkan atas syareat Allah, dia adalah Musrik telah menjadikan selain Allah sebagai Rabb.
Sedang pembuat undang undangnya sendiri dinamai taghut kafir, telah mensekutukan dirinya bersama Allah dalam hal uluhiyah hukum dan tasri’. Allah berfirman (wala yustik fi hukmihi ahada – dan tidak mengambil seorangpun menjadi sekutuNya dalam menetapkan keputusan) [alkahfi 26] dalam qiraah ‘Amir yang termasuk qiraah sab’ah (tujuh) disebutkan ( wala tusrik fi hukmihi ahada) dengan shighot nahyi (larangan) maka tasri’ itu bisa terjadi dari menyekutukan atau menyertai dengan Allah (isyrak dan isytirak) dalam hukum kedua duanya adalah kufrun mujarrad (kufrun dengan sendirinya dari amal tersebut baik menyekutukan atau hanya mengikuti persekutuan itu).

Berkata SyaikhulIslam dalam Attis’iiniyah dalam risalahnya: (attis’iiniyah) : wajib dan haram tidaklah dimiliki kecuali Allah dan Rasulnya dan barang siapa yang memberi sangsi atas orang yang melakukan atau meninggalkantanpa perintah Allah dan Rasulnya dan menciptakan padanya agama, maka dia telah menjadikan untuk Allah itu tandingan dan telah menjadikan untuk Rasulullah padanan. Pada kekudukan orang musrik yang telah menjadikan untuk Allah tandingan-tandingan atau pada kedudukan orang murtad yang mereka beriman kepada Musailama AlKadzab. Dia termasuk dari orang yang difirmankan Allah ( apakah mereka mempunyai sesembahan sesembahan selain Allah yang mensyareatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? ) [Assyuraa : 21]. Dst

Berkata Syaikh Assyangkiti rahimahullah dalam : (adhwaa’ u albayan) juz 7 hlm 169: ketika perundang undangan dan hukum hukum baik yang syar’ii ataupun yang kauniyah qodariyah (ketetapan alam) dari kekhususan rububiyan maka setiap orang yang mengkuti perundang undangan selain perundangan Allah maka ia telah menjadikan orang yang membuat undang undang itu sebagai Rabb , dan mensekutukan dengan Allah”. Dst

Dia berkata pada hlm 173: “pada segala keadaan maka tidak diragukan lagi bahwa siapa yang mentaati selain Allah dalam perundang undangan dari apa yang telah disyareatkan allah maka ia telah mensekutukan dengan allah (musrik)”.

Dia berkata pada judul lain: yang difahami dari ayat seperti firmanNya: ( dan tidak menserikatkan dalam hukum seorangpun) [alkahfii 26]. Bahwa orang yang mengikuti hukum hukum yang dibuat oleh orang yang mengeluarkan undang undang selain apa yang diperundangkan oleh Allah bahwasanya mereka adalah musrikkepada Allah. Pemahaman ini datang menerangkan pada ayat lain seperti orang yang mengikuti perundang undangan syaithon dalam menghalalkan bangkai, dengan anggapan bahwa itu merupakan sesembelihan dari Allah: ( dan janganlah kamu memakan binatang binatang yang tidak di sebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaithon itu membisiki kepada kawan kawannyaagar mereka membantah kamu dan jika kamu menuruti mereka tentulah kamu menjadi orang orang yang musrik) [Al-An’am 121] maka di jelaskan bahwasanya mereka adalah musrik dengan mentaati ( bisikan syaithon itu). Dst

Dalam firman Allah ( Apakah kamu tidak memperhatikan orang orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada taghut. Padahalmereka telah diperintahkan untuk mengingkari taghut itu. Dan Syaithon ingin menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh jauhnya) [Annisa: 60]. Dengan nas nas yang kita sebutkan, nampak dengan sangat jelas bahwa apa yang mereka ikuti dari undang undang buatan yang telah dibuat oelh syaithon lewat mulut para wali walinya menyelisihi dari apa yang disyareatkan Allah lewat RasulNya . Bahwasanya tidak ragukan atas kekafirkan mereka dan kesyirikan mereka. Kecuali orang yang dihilangkan oleh Allah pandangannya dan dibutakan dari cahaya wahyu seperti mereka”. Dst

Dan berkata Abdul majid Asyaadhali dalam kitabnya ( haddul islam wahaqiqotu al iman ) tidak ada beda dalam perundang undangan antara yang membolehkan dan yang lainnya. Orang yang membuat undang undang buatan tidak memerintahkan untuk meminum (khomer) atau menghalalkan minuman ( khomer) akan tetapi itu kembali kepada agama setiap individu di masyarakat dia memisahkan antara agama dan negara sedang dia pembuat hukum negara. Dan agama dalam pandangannya merupakan hubungan antara seorang hamba dengan Rabbnya. Akibatnya maka ketaatannya tidak dipersoalkan untuk melakukannya dan tidak dipersoalkan dalam penghalalan hanya mereka menghormati atas penghalaln ini, dan menyatakan haknya dalam kebiasaannya.

Begitu juga tidak dipersoalkan untuk keyakinan dalam makna mengetahui perintah, orang Yahudi ketika mereka menganggap kebaikan atas jilid dan pemanasan sebagai ganti dari hukum Rajam . mereka dahulu berdosa lalu mencari jalan keluar secara fiqhii (pemahaman) oleh karena itu mereka berkata: pergilah kepada nabi ini karena dia telah diutus dengan peringanan dan bila dia memberikan kepadamu (perintah Jilid dan tahmim) maka itu akan menjadi Hujjah dihadapan Allah ( dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati hatilah) [almaidah 41]

Berkata Abdullah bin Muhammad bin Ahmad AlQonna’ii dalam kitabnya ( hakiqotul imaan) hlm 90. tentang sebab turunnya ayat ( dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang di turunkan Allah maka dia kafir) sebagaimana diketahui bahwa sebab turunnya ayat ini adalah bahwa Yahudi hanya meruah hukum yang ada di Taurat dan tidak menghapus darinya. Dan tidak meyakini bahwa disana terdapat hukum baru dan merupakan sesuatu yang belum ada sebelumnya. Turun dari Allah, mereka hanya merubah dengan menetapkan hukum yang asli. Yang demikian karena karena kerasnya perintah pada mereka. Dan tidak mampunya mereka untuk melaksanakannya karena kefasikan mereka.

Berkata Thobari dalam tafsirnya: ( dan bagaimana mereka berhukum kepadamu sedang pada mereka ada Taurat) [Almaidah 43]padanya ada taurat yang telah diturunkan kepada Musa, dan yang mereka nyatakan bahwa dia adalah benar, dan bahwa itu adalah kitabkuyang telah engkau turunkankepada nabiku padanya terdapat hukum dan hukumku mereka melakukan dan tidak saling mengingkarinya, dan tidak saling menolak. Dan mereka mengetahui bahwa hukumku pada orang Zina yang muhson adalah dirajam. Mereka dengan pengetahuannya itu berpaling. Mereka berkata: mereka meninggalkan hukum setelah mereka mengetahui dengan hukumku mereka melukai padaku dan berma’siat kepadaku” yang benar bahwa perkataan ini pada masalah tidak mengandung keras kepala, dan bukan dalam kontek perumpamaan dan bukan dalam kontek pemahamannya atau merupakan isyarat kepada apa yang mereka sangkakan “ bahwasanya hak ilah “ yang dengan ketetapannya yang sebagian Nasrani dan Yahudi merubahnya atas hukum-hukum yang mereka yakini dalam orang orang berilmu dari kalangan mereka, bahwa Wahyi masih turun kepada mereka untuk merubah apa yang ada pada mereka dengan kemauan Allah. Ini merupakan sesuatu tertentu, sedang apa yang keluar dari kekafiran siapa yang merubah syareat dengan menyatakannya merupakan suatu yang lain. Dst

Yang lebih dekat dengan itu adalah apa yang disebutkan oleh Syaikhul Islam dalam Asshorimul maslul, hlm 521 dia sedang berbicara tentng macam macam penghalalan: “terkadang mereka mengetahui keharamannya dan mengetahui bahwa Rasul hanya mengharamkan apa yang diharamkan Allah kemudia mereka tidak melakukan ketaatan kepada pengharaman ini, dan membangkan kepada yang diharamkani dia lebih kafir dari siapa yang sebelumnya”. Dst
Dan demikian pula Asyaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam menyingkap subhat hlm 28: tidak ada perbedaan bahwa tauhid harus terjadi dengan hati, Lisan dan perbuatan. Dan bila terdapat cacat dari tiga hal di atas maka dia belum menjadi muslim. Dan bila mengetahui tauhid lalu dia tidak melakukannya maka dia kafir pembangkang seperti Fir’aun dan Iblis dan semisal keduanya. Disini terjadi banyak kesalahan dikalangan manusia mereka mengaatakan ini adalah kebenaran dan kami memahami ini , dankami bersakdi bahwa itu adalah benar, akan tetapi kami tidak kuat untuk melakukannya, maka tidak diperkenankan – tidak diterima dan tidak jalan- pada penduduknegeri kita kecuali yang sesuai dengan mereka dan yang lainnya dari berbagai alasan orang yang miskin tidak mengetahui bahwa kebanyakan pemimpin pemimpin kafir mengetahui kebenaran dan tidak meninggalkannya kecuali sedikit dari alasan alasan sebagaimana Allah berfirman ( mereka menjual ayat ayat Allah dengan harga yang sedikit) [Attaubah 9] dan yang lainnya dari ayat ayat Allah” dst

Seperti ini atau lebih , apa yang di sangkakannya oleh sebagian para taghut dizaman ini, mereka menyatakan dengan Syareat Allah , dengan agamanya, mereka juga menyatakan bahwa itu lebih baik dan lebih utama danlebih sempurna , wajib untuk berhukum kepadanya dan yang lainnya. Lalu menjadikan dirinya berhak untuk membuat undang undang sebagaimana yang terdahulu dari undang undang dasar mereka, mereka mengganti hudud Allah, dan hukum hukumnya dengan peraturan peraturan dan undang undang yang basi… Mereka menyangka bahwa mereka beriman kepada Allah dan Rasul dan denga apa yang diturunkan Allah kepadanyadan apa yang diturunkan sebelumnyalalu mendudukan diri mereka sebagai Rabb pembuat hukum dan taghut yang di sembah manusia baginya, mereka juga mewajibkan mengikuti perundang undangan mereka yang membatalkan syareat Allah dan ketaatankepada syareat Allah, mereka juga melarang berhukum kepada Syareat Allah. Maka perbuatan mereka denga batas itu merupakan perbuatan dan pengamalan kufur. Mengeluarkan dari Millah islam, dan tidak membahas padanya tentang keyakinan dan penghalalan.

Berkata Imam ibnu Hazm dalam ( alfashlu) 3/245 tentang firman Allah: (Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu menambah kekafiran disesatkan prang orang yang kafir dengan mengundur undurkan itu. Mereka menghalalkan pada suatu tahum dan mengharamkan pada suatu tahun yang lain. Agar mereka bisa menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkan nya. Maka mereka menghalalkan apa yang di haramkan Allah, 9syaithon ) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang orang kafir) [Attaubah : 37]

Dengan hukum bahasa yang dengannya diturunkan AlQur’an bahwa penambahandalam sesuatu tidak terjadi kecuali darinya dan tidak datang dari yang lain.
Maka benar penambahan itu adalah kufur, dia merupakan satu perbuatan dari perbuatan perbuatan dan dia merupakan penghalalan apa yang diharamkan Allah padanya.

Maka barang siapa yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah sedang dia tahu bahwa Allah ta’laa mengharamkannya maka dia kafir dengan perbuatan itu sendiri “ dst maka renungkan perkataannya: dia merupaka suatu amal dari amal amal amal dan perkataannya menghalalkan apa yang di haramkan Allah sedang dia tahu bahwa Allah mengharamkannya. dari mana mereka melakukan penetrasi ssubhat i’tiqoodi ( kerancuan keyakinan)

Pada persoalan ini terdapat faidah bahwa penghalalan sebagai mana terjadi dengan keyakinan tanpa perbuatan terkadang dan pada saat yang lain keyakinan dengan perbuatan yang lain. Maka sesungguhnya menjadi perbuatan yang mujarrod ( berdiri sendiri).

Maka keyakinan dalam penghalalan atau dihalalkan bukanlah merupakan pembatas dalamkekufuran akan tetapi merupakan tambahan padanya…tidak diragukan bahwa meminum khomer atau melakukan Zina atau memakan riba, semua ini tidak sama dengan pembuatan undang undang untuk itu, dengan menjalankan peraturan, protokoler, dan perpu yang menggantikan hudud Allah atau mempermudah untuk khomer dan zina atau memberikan dispensasi pada Riddah dan Riba disertai dengan penjagaan dan perlindungan berkumpul dan bersepakat padanya mencari kebaikan darinya seperti pada Nidhomul hukmi. …maka yang pertama yang dikatakan padanya ketika pembicaraan tentang pengkafiran baik dia menghalalkan atau tidak menghalalkan karena ia merupakan dosa yang mengkafirkan

Adapun yang kedua merupakan kekafiran dalam tasri’ ( perundang undangan) penghalalan dan pengharaman dan tidak menoleh kapada keyakinan walaupun bersumpah pelakunya beribu kali bahwa dia tidak menghalalkan. Mama kita katakan kepadanya : (janganlah kalian minta maaf sesungguhnya kalian telah berbuat kafir setelah kalian beriman) [Attaubah 66] dan kalian telah didustakan Allah dan menamai iman yang kalian anggapkan sebagai sangkaan..

Karena sangat berbeda besar antara mengambil riba karena dosa yang mencari kelezatan sesaat, dan antara orang yang membolehkan ribabagi manusia, mengundangkan baginya, menjaga yayasannya, menyepakati dan mencari kebaikan padanya…dan saaangan berbeda sekali antara orang yang meminum khomer karena berdosa dengan orang yang membolehkan bagi manusia minum khomerditempat tempat khomer , menjualnya, menjaganya, dan mengganti hadnya Allah tentang peminum khomer dengan perundang undangan yang sangat rendah.

Dan beda sangat besar antara orang yang melakukan Zina karena berdosa, memenuhi hasratnya. Dengan orang yang mengganti hudud zina dan meringankan, membolehkan bagi pelacur dengan perundang undangan yang menjadikan Zina sebagai pidana saja dalan hak suami istri dan ada pada tangannya. Bila pasangan merelakan maka tidak melakukan pidana, dan tidak ada sangsi bahkan dianggap boleh menurut mereka..

Maka tasri’ pembuatan undang undang, pengharaman yang halal dan penghalalan yang haram sebagai mana aku fahami merupakan amal kufri mujarrod. Dan tidak seperti dosa dosa lain, yang disyaratkan padanya keyakinan dan penghalalan, terkadang tasri’ disertai dengan i’tiqod maka dia menjadi kekafiran yang ganda (lkwadrat) dan menjadi penambahan dalam kekafirannya…dia bukan pembatas atau syarat untuk kekufuran disini. Sesungguhnya orang musrik yang menghalalkan bulan bulan haramdengan menggantikannya pada waktu yang lain mereka mengetahui dan meyakini pada ketetapan mereka sendiri bahwa bulan bulan haram disisi Allah adalah yang pertama itu. Mereka tahu dengan mata kepalanya. Dan bukan yang mereka adakan hal yang baru, dan mereka buatkan syareat yang baru, dan menggantikannya. Demikianlah keyakinan Yahudi dihari mereka akan mengganti hudud zina atau mereka berkumpul, beristilah atau bersepakat dengan hukum lain dari diri mereka sendiri dan tidak menghalalkan zina dan tidak meneriakn atau tidak terang terangn dengan penghalalan merekayang ada didalam hati untuk membuat undang undang ( tasri’) atau menggantikan undang undang…maka kekafiran dan jalurnya disini adalah perbuatan penggantian ( tabdil) atau membuat undang undang ( tasri.) atau menyepakati ( ittifaq) dan berkumpul atau mengistilahkan atau menyepakati atas hukum selain syareat Allah ta’alaa. maka sama mereka megatakan kami menyatakan didalam hati kita atau kami menolak bahwa bulan bulan yang diharamkan Allah adalah benar, atau bahwa hudud zina yang Allah telah turunkan adalah benar, atau mereka tidak berkatamaka keyakinan tidak ada harganya untuk disebutkandisinikecuali atas bentuk tambahan didalam kekufurankarena perbuatannya itu adalah dengan hududnya itu sendiri adalah kafir. dan menyekutukan Allah dalam hukum, maka barang siapa yang menyekutukan dirinya dengan Allah dengan cara perundang undangan maka Allah telah mencabut dalam kekhususa dari kekhususannya, dan jadilah taghut pembuat undang undangmenyamai Allah , para pengikutnya, dan para penolongnya, para kelompknya atas hal itu mereka menyembah…