Ketahuilah terlebih dahulu, bahwa syubhat ini bukanlah subhat yang baru akan tetapi ini adalah subhat lama yang telah diwariskan oleh mereka yang bertaqlid dengan bodoh dari syaikh-syaikh mereka (guru guru mereka) para orang yang menyeleweng dan pelaku kesesatan seperti Jahm bin Sofwan , Basyir bin Ghiyats AlMurisii dan semisalnya yang lain. ..baik dari jalan <Alwijaadah) didapat atau dari bisikan syaithon..

Diantara perkataan yang jelek yang dinisbatkan kepada Basyir AlMuriisyii adalah: bahwa sujud untuk matahari, dan bulan tidak kafir akan tetapi padanya terdapat tanda kekafiran…begitu juga aqidahnya Jahmi dan pengikutnya

Oleh karenanya berkata Ibnu Hazm Rahimahullah dalam AlMuhalla-nya (13/498) memaparkan tentang cercaan kepada Allah: adapun mencela Allah dan apa yang nampak dimuka bumi sebagai muslim yang menyelisihi bahwasanya itu merupakan kufur yang nyata. Kecuali orang-orang Jahmiyah dan As’ariyah keduanya kelompok yang tidak melawan keduanya , mereka menyatakan bahwa mencela Allah dan menyatakan kekufuran tidaklah menjadi kafir. Berkata sebagiannya: akan tetapi merupakan dalil atas dia meyakini kekufuran, bukan menjadi kafir dengan keyakinan hanya dengan mencelanya dia kepada Allah;

Aku mengatakan: renungkanlah hal ini, dan kesesuaiannya dengan perkataan mereka para duat yang kami sebut tadi..(Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu sebenarnya mereka adalah kaum yang melampoi batas) [Ad-Dhariyat 53]
Ibnu Hazm berkata: aslinya mereka adalah keluar dari Ijma’ Ahlu Islam mereka mengatakan: keimanan itu adalah pembenaran dengan hati saja, walaupun dia menyatakan kekufuran” dst.

Ibnu Hazm berkata kembali pada Halm 499: kemudian disebutkan perkataan mereka: bahwa mencela kepada Allah pada sisi kalian tidaklah kafir dari mana dalil atas pengkufurannya?
Dan jika mereka berkata: karena dihukumi atas orang yang mengucapkannya dengan hokum kafir.
Dikatakan kepada mereka: dihukumi dengan perkataan itu sendiri dan bukandengan keghoiban hatinya yang tidak mengetahui kecuali Allah. Akan tetapi dihukumi dengannya sebagai kekafiran hanya denga perkataannya saja. Perkataannya telah kafir. Allah mengabarkan tentang kaum yang mengatkan denan mulutnya apa yang tidak ada di dalam hatinyadengan itu mereka adalah kafir seperti Yahudi yang mengetahui kebenaran kenabian Muhammad saw. Sebagaimana mereka mengetahui anak anak mereka dengan itu mereka kafirkepada Allah secara Qot’ii danmeyakinkankarena mereka menyatakan kalimat kekufuran.

Berkata Rahimahullah pada judul yang sama: mereka tidak menyelisihi tentang apa yang ada pada kitab Allah – penamaan dengan kekufuran dan pemutusan hokum sebagai kafir atas siapa yang berkata dengan perkataan yang dikenal seperti perkataan sungguh telah kafir orang orang yang mengataka bahwa Allah itu adalah Isa AlMasih [AlMaidah 17] dan firman Allah: (Mereka telah mengatakan perkataan yang kufur dan mereka telah kafir setelah keislaman mereka) [Attaubah 73] maka benar bisa menjadi kufur dari perkataan. ..dst.

Berkata dalam sub bab Almalal wal Ahwa’ : adapun As’ariyah maka mereeka mengatakan: sesungguhnya orang yang menampakkan Islam dan mencela kepada Allah dan kepada Rasulnya dengan sejelek jelek cercaan, dan menyatakan kedustaan dengan keduanyalewat lesannya tidak karena taqiyah, juga bukan berkisah dan mengikrarkan bahwasanya dia beragama dengan itu tidak ada darinya itu sesuatu kekufuran , kemudian mereka takut dengan Aahlu Islam dan bersegera mengatakan: akan tetapi itu merupakan dalil bahwa didalam hatinya ada kekufuran.

Bahkan juga dinukil dari judul yang sama tentang As’ariyah bawasanya mereka mengatakan: Iblis tidaklaj kafir dengan maksiat kepada Allah ketika tidak melakukan sujud kepada Adam dan juga tidak kafir dengan perkataan iblis : saya lebih baik darinya , akan tetapi iblis kufur Juhud (membangkang) kepada Allah ta’ala yang ada didalam hatinya”.

Dia berkata: “ini menyelisihi AlQur’an dan berdukun yang tidak bisa diketahui kesahihannyakecualili dibisiki Iblis pada dirinya, bahwa syaikh tidaklah tsiqoh atas apa yang diucapkannya tentang dirinya. ..dst

Dia berkata pada halaman 76: kita telah mengkisahkan bantahan kepada kelompok yang mengatakan kalimat yang terlaknat itu. Dalam kitab kita yang diberi nama: Alyqiin fi annaqdhi ‘ala Mulhidin AlMuhtajin an Iblis Allaiin wa saairil kaafirin”.

Aku katakana: aku belum mendapati kitab itu, akan tetapi dikeluarkan juga dalam kitanya: “Alfaslu fil mal wal Ahwa’dalam bantahannya kepada Jahmiyah ,Murji’ah, yang itu sudah di anggap cukup dan menjadi obat bagi perasaan dendam kesumat.lihat pada Juz ketiga halaman 239 dan sesudahnya

Diantara perkataannya adalah: adapun perkataan mereka bahwa mencerca Allah itu bukan kufur begitu juga mencerca Rasulullah saw. Akan tetapi merupakan bukti bahwa didalam hatinya terdapat kekufuran, itu merupakan perbuatan mengada ada, karena Allah berfirman: (mereka bersumpah atas nama Allah apa apa yang mereka katakana, mereka telah mengatakan kalimat kekufuran, dan mereka telah kafir setelah keislaman mereka) [Attaubah 74]
Maka Allah mengeluarkan nas bahwa ada diantara perkataan itu yang kafir.

Allah berfirman: (..apabila kamu mendengar ayat ayat Allah diingkari dan diperolokolok –oleh orang orang kafir- maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain, karena sesungguhnya kalau kamu berbuat demikian tentulah engkau serupa dengan mereka) [An-Nisa’:140]

Allah mengeluarkan nas bahwa ada diantara perkataan dalam ayat ayat Allah, ada yang mengkufurkan dengan sendirinyabisa didengar.

Allah berfirman: (..katakanlah apakah dengan Allah, ayat-ayatnya dan RasulNya kamu berolok olok? . tidak usah kamu minta maaf karena kamu telah kafir sesudah beriman jika kami memaafkan segolongan daripada kamu lantaran mereka taubatniscaya kami akan mengazab golongan yang lain ) [At-Taubah 65-66]

Maka Allah mengeluarkan Nas bahwa mengolok olok Allah itu , atau kepada ayatnya, atau kepada Rasulnyadari rasul rasulnya merupakan kekufuranyang mengeluarkan dari iman/ Allahtidak berkata…pada itu aku mengetahi bahwa didalam hatimereka kufur, akan tetapi Allah telah mengkufurkan dengan perilaku olok olok itu sendiri. (tanpa harus mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka).

Barang siapa yang menyeru selain ini maka ia telah mengada ada perkataan Allah apa yang tidak dikatakan dan mendustakan Allah ta’la..(3/244).

Dia juga berkata pada salah satu bab (3/253)
Bantahan kepada orang orang Murji’ah: (sekiranya seorang manusia berkata: sesungguhnya Muhammad saw kafirun, orang yang mengikutinya kafir lalu diam, padahal yang dimaksud adalah kafir kepada taghut sebagaimana firman Allah ( maka barang siapa yang mengkufuri taghut dan beriman kepada Allah maka ia telah berpegang teguh dengan ikatan tali yang kuat, tidak akan terlepas darinya) [Al-baqarah 256) tidak ada yang menyelisihi seorangpun dari ahli islam bahwa orang yang mengatakan itu dihukumi sebagai kafir.

Demikian juga sekiranya mengatakan bahwa Iblis, Fir’aun, dan Abu Jahal adalah orang beriman, tidak ada yang menyelisihi seorangpun dari ahli islam bahwa orang yang mengatakan itu dihukumi sebagai kafir padahal yang dimaksud itu adalah beriman kepada agama kafir…dst.

Aku katakan maka benar bahwasanya kita mengkafirkannya hanya dengan perkataanya saja, dan perkataannya yang menandung kekufuran, kita tidak masuk kepada kegaiban dari keyakinannya…demikianlah setiap orang yang menampakkan perkataan atau perbuatan kufur maka kita kafirkannya hanya dengan perkataannya itu sendiri atau amal kufur itu sendiri (tanpa didukung oleh syarat lain) karena kegaiban keyakinannya tidaklah mengetahui kecuali Allah, Rasul telah bersabda: sesungguhny aku tidak dibangkitkan untuk memberatkan hati manusia. Orang yang menganngab berlawanan dengan paham ini maka ia telah menyebut dirinya mengetahui kegaiban, orang yang menganggap dirinya mengetahui gaib tidak diragukan lagi bahwa orang itu adalah pendusta.

Allah telah mempersaksikan bahwasanya ahlu kitab mengetahui kebenaran dan mereka menyembunyikannyadan mengetahui bahwasanya Allah adalah benar, dan Muhammad adalah Rasulullah saw. Mereka menampakkan yang berbeda dari apa yang mereka ketahui dengan lisan merekadan tidaklah Allah menamai mereka sebagai orang kafir kecuali dengan apa yang mereka nampakkan lewat lisan dan perbuatan mereka. Padahal hatinya mengetahui dan menyembunyikan kebenaran.

Allah berfirman ( Maka tatkala mu’jizat-mu’jizat kami yang jelas itu sampai kepada mereka berkatalah mereka: ini adalah sihir yang nyata”. Dan mereka mengingkarinya karena kedhaliman dan kesombongan mereka padahal hati mereka meyakini-kebenarannya- maka perhatikanlah betapa kesudahan orang orang yang berbuat kebinasaan) [An-naml 13-14]

Berkata Ibnu Hazm : “ini juga merupakan nas yang nyatatidak membutuhkan kepada ta’wil bahwasanya orang kafir menolak dan membangkan dengan lisan mereka ayat ayat yang telah dating kepada anbiya’ –asw- mereka meyakini didalam hatinya bahwasanya ayat ayat itu adalah benar. berkata Rahimahullah: mereka berdalil dengan perkataan Al Akhtol Annasranii (semoga Allah melaknat dia) ketika dia berkata:

Sesunguhnya perkatan itu ada di dalam hati
Dan dijadikannya lisan atas hati sebagai dalil.
Dia berkata: maka jawaban kami atas dalih itu adalah bahwa itu terlaknat, terlaknat orang yang mengatakan bait syair itu, dan terlaknat orang yang menjadikan perkataan itu sebagai dalih dalam agama Allah .
Bukankah ini hanya dari sudut bahasa yang dipakai oleh orang arab dalam berdalih walaupun dia adalah kafir, sesungguhnya itu adalah persoalan akal sedang akal dan rasa telah mendustakan bait syair ini. Sedangkan persoalan syar’ii maka Allah lebih benar daripada Nasrani yang laknat itu ketika Allah berfirman: ( mereka mengatakan dengan lisannya apa apa yang tidak ada didalam hati mereka) [Ali Imran 167] Allah telah mengabarkan bahwa ada diantara manusia itu yang mengatakan dengan lisannya apa yang tidak ada pada hatinya, berbeda dengan perkataan Al Akhtol yang dilaknat Allah.
Adapun kami maka kami membenarkan Allah dan mendustakan Akhthol dan terlaknat siapa yang menjadikan Al Akhthol sebagai hujjah dalam agama Allah , cukuplah Allah sebagai wakil dan sebagai wali..dst (3/261)

Dia berkata (3/262). Allah telah berfirman: (sesungguhnya orang orang yang kembali kebelakang –kepada kekafiran- sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka syaithon telahmenjadikan mereka mudah berbuat dosa dan memanjangkan angan angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka –orang orang munafiq- itu berkata kepada orang orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah –orang orang Yahudi- : “kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusansedang Allah mengetahui rahasia mereka) [Muhammad 25-26]
Dia berkata: Allah menjadikan mereka sebagai kafir dan murtadz setelah pengetahuan mereka terhadap kebanarandan, setelah jelas kepada mereka petunjuk dengan perkataan mereka untuk orang kafir apa yang mereka katakan saja, dan Allah memberitahukan kepada kami bahwasanya Allah mengetahui rahasia rahasia merekadan tidak mengatakan bahwasanya dia telah menolak atau membenarkan bahkan telah benar bahwa didalam rahasia mereka itu ada pembenaran, karena petunjuk telah diterangkan kepada mereka, maka barang siapa yang sudah jelas baginya sesuatu maka tidak mungkin untuk menolak dengan hatinya sama sekali.

Berkata Rahimahullah tentang firman Allah : (mereka bersumpah atas apa yang mereka katakan, mereka telah mengatakan kalimat kekufuraaan , dan mereka telah kafir setelah keislaman mereka) [Attaubah 74] : “maka benar nas Al-Qur’an bahwa siapa yang berkata kekufuran, tidak sedang melakukan taqiyah, maka ia telah kafir setelah keislamannya, dan benarsiapa yang meyakini keimanan dan melafaadhkan kekufuran maka dia disisi Allah adalah kafir dengan nas Al-
Qur’an.

Allah berfirman: (hai orang orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana keraasnya suara sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari) [alHujurat: 2]
Ini merupakannas yang jelass dan khitobnyaa kepada orang mukmin, bahwa keimanan mereka menjadi batal secara globalll, dan amal amal mereka siaa sia hanya dengan meninggikan suaraa diatas suaranya nabi saw, sedangkan dia tidak menolak (jukhdin) sama sekali dari mereka. Sekiranya mereka menolak niscaya merekaa menyadari dengannya, Allah mengabarkan bahwa hal itu mereka tidak sadari.

Maka benar bahwa diantara perbuatan badan ada yang kafir membatalkan keimanaan pelakunya secra global.
Darinya adaa yang tidak menjadikan kafir, akan tetapi atas apa yang telah dihukumkan Allah pada setiap itudan tidak ada taambahan padanya. ..dst

Ini merupakan kebenaran yang tidak ada keraguan padanya.
Bukan seperti perkataan orang khowarij yang sesat itu, bahwa seluruh dosaa dari perbuatan perbuatan badan adalah kufur yang mengeeluarkan dari keimanan.

Juga tidak seperti Murji’ah asrii yang sesat itu, bahwa seluruh amal dan dosa tidak mengkafirkan pelakunya kecuali bila diyakini. Dan yang benar adalah bahwa diantara amal perbuatan ini ada yang bisa mengkafirkan dengan sendirinya (taanpa syarat lain), juga bisa menghancurkan keimanan, seperti yang telah dijelasken kepada kamu.

Diantara amal itu ada yang hanya meniadakan kesempurnaan imansaja, maka ia hanya mengurangi dan menodai, tidak membatalkan kecuali bila ia menghalalkannya atau menolaknya.
Penjabaran ini dihilangkan dan ditentang oleh Khowarij dengan berlebihannya (melampoi batas) , dan oleh murji’ah dengan kesembronoan (menguraangi dari porsinya). Kedua duanya merupakan kelommpok yang sesat.

Bahkan dinasabkan kepada Ibrahiem Annakho’ii dengan perkataannya : sungguh fitnah Murji,ah lebih aku takutkan untuk umat ini daripada fitnah bergolong golongan di umat ini.
Dan perkataannya: khowarij padaku lebih aku tolerir daripada Murji’ah.

Berkata Al Auza’ii: Yahya dan Qotadah keduanya berkata: tidak ada Ahwa’ yang lebih ditakuti diantara keduanya dalam umat ini melebihi ketahutannya kepada Murji’ah.

Tidak diragukan lagi bahwa Murji’ah merupakan reaksi atas fitnah khowarij aatas pemimpin yang dhalim yang diikuti deengan pemenjaraan, pembunuhan dan berbagai cobaan lain. Yaitu awal mula munculnya murji’ah dan menyebar setelah kekalahan Abdurrahman bin Al Asy’ats. Akan tetapi itu merupakan reaksi yang tidak tepat dengan kaidah syareah, seperti keadaan Murji’atul Asri dalam kesurupaan mereka yang kebanyakan merupakan reaaksi terhadap ghulatul Mukaffirah (orang yang extrem dalam pengkafiran) pada Zaman ini. Bahkan reaksi itu juga diberikankepada Ahlu haq yang mengkafirkan apa yang dikafirkan Allah dan Rasulnya dengan dalil…secara sempurna sebagaimana ketundukan mereka kepada para Taghut dan pemimpin pemerintahan, itu semua merupakan reaksi untuk menakut nakuti para Taghut dengan Ahli Tauhid , memenjarakan mereka dan menyiksa mereka .

Para pencari kebenaran tidak mengarahkan kepada reeaksi sebaliknya akan tetapi meletakkan pandangannya kepada Hadits Musthofa saw. Tentang sifat kelompok yang ditolong Allah yaitu tidak mempedulikan siapa yang menyelisihi mereka dan siapa yang memperdaya mereka” dia tidak akaan menjadi berada dalam bahaya dan tidak terpengaruh oleh orang orang yang berlebihan dan orang orang yang mengurangi porsinya. Bahkan masih tetap tegar dan kokoh diatas lembaran yang putih yang telah ditinggalkan oleh nabi saw hingga beliau bertemu dengan Nabi.

Setelah kami paparkan kepada kamu banyak dari perkataan Imam Ibnu Hazm dalam masalah ini, kami tingkatkan kepada perktataan syaikhul islam Ibnu Taimiyah meminta fatwa dalam masalah ini. Tidak ada maksud dibalik itu melainkan memotong ikatan kesesatan oleh murji’atul asri yang terkadang berdalih dengan perkataan syaikhul Islam Rahimahullah …sebenarnya hujjah bukan disandarkan dari perkataan Ibnu Taimiyah dan Ibnu Hazm juga bukan juga dari selain dari keduanya akan tetapi hujjahnya adalah kalam Allah dan Rasulnya saw..barang siapa yang tidak merasa cukup dengan perkataan Allah dan Rasulnya jiwa kami tidak akan berpayah payah membersamainya.

Allah berfirman: (Maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan –keteranganNya) [Al-Jatsiah :6]

Semoga Allah merahmati Ibnu Qoyyim ketika beliau berkata:

Berkata Ibnu Taimiyah dalam Ashorimul Maslul.
“sesungguhnya mencela Allah dan Rasul merupakan kekurufan dhohir dan batin sama celaan itu diyakini sebagai hal yang haram atau menghalalkannya, atau dia lalai dari keyakinannya. .ini merupakan Madzhab para Fuqoha’ dan seluruh Ahlu Sunnah yang mengatakan bahwasanya iman adalah perkataan dan perbuatan..”sampai pada perkataan : “demikian juga berkata sahabat sahabat kita dan yang lainnya: barang siapa yang mencela Allah dan Rasulnya maka dia kafir sama saja dia bergurau atau sungguhan. Dia berkata: ini merupakan kebenaran yang terputus dengannya. Berkata Qodhii Abu Ya’laa dalam almu’taqod : barang siapa yang mencela Allah dan mencela Rasul sesungguhnya dia kafir sama saja menghalalkan pencelaannya atau tidak menghalalkannya. Dan bila berkata: aku tidak menghalalkannya, maka perkataan itu tidak di terima.

Dia juga berkata kembali (515): dan harus diketahui bahwa perkataan pengkafiran celaan pada urusan yang sama sesungguhnya dia adalah penghalalannya kepada celaan merupakan ketergelinciran, kemungkaran, dan kekeliruan yang besar”.

“sesungguhnya terjadi apa yang terjadi pada angin lalu dengan apa yang didapati dari perkataan sekelompok orang orang yang terakhir dari kalangan ahlu kalam mereka adalah Jahmiyah inats yang diikuti oleh madzhab Jahmiyah pertama yang menyatakan bahwa iman itu adalah sebatas membenarkan yang ada di dalam hati.

Berkata pada hal : “sesungguhnya cerita yang tersebut dari para
Fuqoha’ sesungguhnya jika menghalalkan maka ia kafirdan bila tidak menghalalkan maka tidak kafir,- pernyataan itu tidak memiliki keaslian akan tetapi telah di nukil oleh seorang Qodhii – dari kitab sebagian ahlu kalam.

Dia berkata pada Halaman (516). Sesungguhnya meyakini kehalalan celaan adalah kafir, sama ada dia menggabungkan dengannya keberadaan celaan atau tidak menggabungkannya”.
Beliau berkata kembali: sesungguhnya apabila yang mengkafirkan itu adalah keyakinan penghalalan maka tidak ada pada pencelaan itu yang menunjukkan bahwa pencelaan itu dihalalkan. Maka seharusnya untuk tidak kafir apalagi bila dia berkata aku meyakini bahwa ini adalah haram. sesungguhnya aku berkata karena dongkol, kebodohan, sia sia atau main mainsebagaimana orang munafiq berkata ( sesungguhnya kami memperolok dan mempermainkan) [Attaubah:65]

Dan bila dikatakan: mereka tidak menjadi kafir, maka dia menyelisihi nas alQur’an.
Dan bila dikatakan: mereka menjadi kafir, yaitu pengkafiran yang tidak di haruskan apabila tidak menjadikan celaan yang sama sebagai yang mengkafirkan.
Dan perkatan seorang: aku tidak membenarkan dalam hal ini, tidak lurus, karena pengkafirantidak bisa terjadi dengan perkiraan, dan bila dai sudah mengatakan: aku meyakini bahwa itu dosadan Ma’siat, dan aku melakukannya) maka bagaimana dia kafir bila itu bukan dari kekafiran. ??

Oleh karenanya Allah berfirman (Tidak usah kamu minta maaf karena kamu telah kafir sesudah kamu beriman) [Attaubah 66]. Dan tidak mengatakan: “kamu telah berdusta pada perkataanmu: sesungguhnya kami berolok olok dan mempermainkan, dan tidak mendustakan pada alas an ini sebagaimana dia telah mendustakan mereka pada seluruh apa yang meeka nampakkan dari alas an yang diharuskan untuk berlepas diri mereka dari kekufuran sekiranya mereka benar.

Bahkan Allah menerangkan bahwasanya mereka kafir setelah keimanan merekadengan perbuatan memperolok olok dan mempermainkan, dan bila diterangkan bahwa Madzhab salaf umat dan siapa yang mengikutinya dari kalangan kholaf bahwa perkataan itu sendiri adalah kufur, baik pelakunya menghalalkan atau tidak menghalalkannya. Dalil untuk itu adalah apa yang telah kita sampaikan di depan. ..dst dari Ashorimul Maslul (517).

Berkata Rahimahullah dalam tafsir firman Allah ( Baarang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman –dia mendapat kemurkaan Allah- kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman –dia tidak berdosa- akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiranmaka kemurkaan Allahmenimpanyadanbaginya adzab yang besar) [An-Nahl 106] berkata ; sekiranya berbicara dengan kekafiran tidak menjadi kufur kecuali bila hatinya lapang maka tidak dikecualikan orang yang terpaksa. Maka tatkala dikecualikan yang terpaksa maka diketahui bahwa siapa yang berbicara dengan kekufuran yang tidak terpaksa berarti bisa dipahami dia telah melapangkan dadanya untuk kekufuran itu. Itu merupakan hokum dan bukan muqoyyad untuk hukum”..dst

Renungkanlah perkataan yang terakhir : itu merupakan hokum dan bukan merupakan muqoyyad untuk hokum. ..maka oorang yang menyatakan terang terangan dengan kalimat kekufuran tanpa ada alasan syar’ii maka ia kafir telah melapangkan dadanya untuk kekafiran, dan tidak dikatakan kita tunggu dan lihat dulu sampai kita tahu apa yang ada didalam hatinya, apakah dia meyakini ataumenghalalkan atau tidak..?

Begitu juga pencelaan kepada Allah Rasul dan AgamaNya hatinya lapang dengan kekufuran ini, walaupun dia tidak membritahukan kepada kita dengan itu, begitu juga dengan orang yang sujud kepada berhala karena taat dan melapangkan dadanya untuk tu dan tidak dikatakan kita menunggu dan melihat apakah dia menghalalkan atau tidak menghalalkan, karena amal itu merupakan amal kekafiran secara langsung sudah ada pada perilaku itu. Demikian pula orang yang membuat hokum dan undang undang menyamai Allah atau mengikuti danmencari selain allah sebagai hokum, pembuat hokum, dan yang diibadahi dia telah melapangkan dadanya untuk kekufuran dengan menjadikandirinya sebagai taghut yang diibadahi dalam hal itu, atau mengikuti Taghut berkomitmen padanya dan menjalankan hokum hukumnya. Dan tidak dikatakan kita lihat dulu apakah dia menghalalkan perundang undangan itu yang menyamai Allah dia meyakini atau tidak meyakini. Lbegitu juga orang yang memperolokkan agama dengan sesuatu dia kafir dengan memperolokkan dan kita tidak terdiam hingga mempertanyakan akankeyakinannya dan penghalalannya, bahkan sekirannya dia menyatakan dengan jelas jelas bahwa dia tidak meyakini dan tidak menghalalkan maka kamikatakan sebagaimana Allah berfirman ( janganlahkalian minta maaf, kalian telah kafir setelah keimanan) [Attaubah 66]

Dia dihukumi dengan kekufuran sebagaimana disebutkan oleh Syaikhul Islam dan bukan muqoyyad untuk kekufuran, sebagaimana yang dijadikan oleh murji’atul asrii…sekirannya dianggapnya urusan ghaib yang tersembunyi ini sebagai mukayyad kekufuran pada amal amal kekafiran maka jadilah agama ini sebagai bahan mainan ditangan para Zindiq
Maka tidaklah ada dari orang kafir atau Musrik kecuali menyangka bahwasanya ia menyimpan kebaikan, taufiq, iman dan petunjuk.

Pembuat undang undang yang bijaksana sesungguhnya ia hanya memberikan alur hokum hokum Syar’ii –diantaranya adalah pengkafiran (takfir)-didunia dengan illah dan sebab yang jelas dan pasti dan tidak mengarahkan pada sebab sebab yang tersembunyi atau gaib, atau dalam bentuk batin itu semua mengikut kepada hokum hokum akherat.
Kemudian kufur takdzib dan Juhud itu hanya dari satu jenis dari macam macam kekufuran…dan bukan merupakan satu satunya kekufuran sebagaimana dimaklumi.

Berkta Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Fatwanya: (7/560), mereka adalah orang yang mengatakan dengan perkataan jahmiyah, dan sholihii mereka sudah mengucapkan terang terangan bahwa pencelaan kepada Allah dan Rasulnya, berbicara dengan trinitas, dan setiap kalimat dari kalimat kekufuran menurut mereka tidaklah kafir didalam batin akan tetapi merupakan dalil atas kekufuran dan diperkenankan dengan ini untuk menjadikan setiap celaan didalam batin, mengenal Allah bertauhid kepadanya, beriman dengannya, dan bila mana ditegakkan padanya hujjah dengan nas atau Ijma bahwa ini merupakan kekafiran dhohir ataupun batin.

Mereka mengatakan: ini menuntut bahwasanya itu menuntut untuk mendustakan batin maka dia dikatakan bagi mereka sesungguhnya kami mengetahui bahwa siapa yang mencela Allah dan Rasulnya karena taat tanpa paksaan. Bahkan siapa yang berbicara dengan kalimat-kalimat kekufuran deengan rasa taat tidaak terpaksa, dan barang siapa mengolok olok kepada Allah dan ayat ayatnya dan Rasulnya maka dia adalah kafir dhohir maupun batin. Dan bahwa siapa yang berkata: bahwa seperti ini terkadang bisa terjadi didalam batin beriman kepada Allah maka dia kafir secara dhohir. Karena dia mengatakan sesuatu perkataan dimaklumi kerusakannya dengan dhorurat agama. Allah mengyebutkan kalimat kufur didalam Al-Qur’an dan menghukumi dengan kekafiran mereka dan memberikan hak ancaman kepada mereka dengannya. Seperti firman Allah: ( sungguh telah kafir orang orang yang mengatakan sesunguhnya Allah adalah salah satu dari tida) [AlMaidah 73], sungguh telah kafir orangorang yang mengatakan sesunguhnya Allah adalah Almasih Ibnu Maryam) [almaidah 16] dan semisalnya”. Dst ini merupakan ringkasan.

Dia berkata juga tentang ayat dari surat Annahl : sebagaimana diketahui bahwasanya Allah tidak hanya membantah dengan kekufuran disini sebagai keyakinan hati saja. Karena itu tidak seseorang tidak akan memaksa padanya, dan dia telah mengecualikan bagi siapa yang dipaksadan tidak membantah siapa yang mengatakan dan meyakini karena beliau mengecualikan yang terpaksa. Dan dia tidak memaksa tujuan dan perkataan. Sesungguhnya dia memaksa atas perkataan saja. Maka diketahui bahwasanya dia bermaksud siapa yang dipaksa sedang hatinya tenang ..akan tetapi siapa yang dilapangkan dadanya dengan kekuufuran dari kalangan orang yang terpaksa maka dia adalah kafir juga.

Maka jadilah orang yang berbicara dengan kekufuran dia kafir kecuali siapa yang dipaksa, maka dia mengatakan dengan lisannya kalimat kekufuran sedang hatinya tenang dengan iman.

Allah berfirman tentang orang yang memperolok-olok (janganlah kamu meminta maaf kalian telah kafirsetelah keimanan kalian) [Attaubah 66] Allah menerangkan bahwasanya seseorang kafir dengan perkataan sedangkan dia tidak meyakini kebenarannya inimerupakan bab yang luas ..dst. dari Ashorimul Maslul halaman 524.

Beliau juga menetapkan didalam Ashorimul Maslul halaman (222). Bahwa menyakiti nabi dan berdoa kematian untuknya disaat dia masih hidup sekiranya itu seorang muslim maka dia murtad.

Dia menyebutkan pada halaman (453) bahwa pembunuhan kepada nabi merupakan macam kekafiran yang paling benar. Sesungguhnya sangkaan seorang pembunuh bahwa dia tidak membunuhnya dengan menghalalkan, disebutkan dari Ishaq bin Rohaweh bahwa ini merupakan ijma’ muslimin.

Dia juga berkata dalam kitab yang sama halaman 178: secara global barang siapa yang berkata atau melakukan apa yang disebut kafir maka dia kafir dengannya walaupun tidak bermaksud untuk kekafiran sebenarnya seseorang tidak bermaksud kekufuran kecuali yang Allah kehendaki.

Dikecualikan watak dan karakter dari kemutlakan kalimat ini. -Sebagaimana kami telah nukilkan sebelumnya dari Ibnu Hazm- Barang siapa menyatakan kekufuran, atau mengucapkan dengannya karena taqiyah (berpura pura) atau berkisah, atau yang lainnya termasuk dari hal yang dikecualikan oleh syara’.
Maka jika orang orang murji’ah asri berteriak dan berkata: sebentar…. bukankah pengecualian itu dan apa yang telah dijadikan orang yang mengucap kekufuran disini keluar dari apa yang telah kalian tetapkan sebelumnya, bahwa orang yang mengatakan kalimat kufur dan pelakunya dia adalah kafir walaupun tidak meyakini.?

Maka kami katakan: itu dikecualikan pada beberapa tempat menurut nas kalam Allah …Allah lah yang telah memberi nama dan mensifati sesuatu dengan sekehendakNya. Maka dzat yang memberikan penamaan dengan kalimat kafir atss siapa yang melakukan perbuatan perbuatan atau mengucapkan dengan perkataan kekafiran adalah Allah subhanahu wata’ala sendiri yang juga mengecualikan beberapa keadaan …kepada kalian bantahan Ibnu hazm yang dikenal sebagai manjanik ghorbi kepada syaikh syaikh kalian dan orang orang terdahulu kalian dari kalangan Murji’ah yang pertama tentang berbagai syubhat ini.

Berkata Rahimahullah dalam bab : (3/251) kami telah mengatakan bahwa penamaan bukan hak kami, akan tetapi dia merupakan haknya Allah ta’alaa.

– tatkala Allah memerintahkan untuk mebaca al-Qur’an, telah diceritakan disana perkataan ahlu kufur, dan Allahmengabarkan bahwasanya Allah tidak ridho bagi hambanya dengan kekufuran. Maka keluarlah seorang yang membaca AlQur’an dengan itu dari kekafiran kepada ridho Allah, dan mengimani hikayat (cerita) yang telah dinaskan oleh Allah ta’ala kepadanya.
– Tatkala Allah memerintahkan untuk kesaksian dengan kebenaran Allah berfirman ( kecuali -orang orang yang memberi syafaat adalah- orang yang mengakui alhaq danmereka yang mengetahuinya) [Azzuhruf 86]. Seorang yang bersyaksi –dengan tauhid- yang mendapatkan kabar tentang orang kafir akan kekafirannya. Agar tidak menjadi orang kafir dan menuju kepara ridho Allah dan keimanan.
– Dan tatkala Allah berfirman (kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman -dia tidak berdosa – akan tetapi orang yang melapangkandadanya untuk kekafiran maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar) [An-Nahl : 106] telah keluar siapa yang menetapkan keterrpaksaan dari menampakkan kekufuran sebagai kafir kepada keringanan Allah dan keteguhannya pada iman.

Maka jadilah orang yang menampakkan kekufuran tidak sedang membaca, atau tidak sedang menyaksikan, atau tidak sedang berkisah, tidak sedang dipaksa atas wajibnya kekufuran baginya dengan ijma’ Ummat bahwa kalau tidak karena hal hal di atas maka dihokumi baginya sebagai kafir, dengan hokum Rasulullah dan nas AlQur’an bahwa siapa yang mengucapkan kalimat kekufuran maka dia adalah kafir.

Bukankah firman Allah menyatakan: ( akan tetapi siapa yang melapangkan dadanya untuk kekafiran) [Annahl : 106] ayat itu bagi mereka yang menyangka dri keyakinan kekufuran saja, akan tetapi setiap orang yang mengucapkan denga perkataan yang dihukumi bagi pengucapnya dikalangan ahli islam dihukumi sebagai kafir, tidak sedang membaca, tidak sedang menyaksikan, tidak sedang bercerita, tidak sedang dipaksa, maka orang itu telah melapangkan dadanya untuk kekafiran. Bermakna bahwa melapangkan dadanya untuk menerima kekufuran yang diharamkan bagi ahli islam dan atas ahli kufur untuk mengucapkannya sama saja dia meyakini atau tidak meyakininya…dst.

Tidak mengapa untuk dikeluarkan disini bagi yang menginginkan tambahan akan perkataan paraa imam imam yang lain selain Ibnu Hazm dan Ibnu Taimiyah seputar masalah ini:

• Berkata Ibu Qoyyim Rahimahullah dalam (kitabu sholah) halaman 53. cabang iman itu ada dua, perkataan dan perbuatan. Begitu juga cabang kekufuran itu ada dua : perkataan dan perbuatan.

Diantara cabang iman dalam bentuk perkataan terdapat cabang yang ketergelincirannya menjadikan tergelincirnya iman. Begoiitu juga cabang iman dalam bentuk perbuatan, maka ketergelincirannya menjadikan ketergelinciran iman juga.

Begitu juga cabang dari kekafiran terdapat perbuatan dan perkataan , sebagaimana seseorang menjadi kafir dengan mendatangkan kalimat kekufuran ikhtiyaran ( tidak karena paksaan) maka itu termasuk cabang dari cabang kekafiran. Begitu juga seseorang kafir dengan perbuatan kekufuran termasuk dari cabangnya juga. Seperti sujud kepada berhala, menghinakan mushaf …dst.

Darinya didapatkan pelajaran bahwa kufur dengan perbuatan keadaannya bukan merupakan hal yang kecil dikalangan ahlu ilmi, bahkan disana terdapat kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari millah. Berbeda dengan apa yang dilihat oleh para murji’ah dizaman kita.

• Berkata Ibnu Wazir dalam kitabnya : ( itsaarul haq fi raddi khilaafaat ila madzhabil haq (hlm 395) talah menyampaikan Asyaikh Abu Hasyim dan sahabat sahabtnya dan yang lainnya mereka berkata: tentang ayat ini- yang di maksud adalah ( akan tetapi siapa yang dilapangkan dadanya untuk kekafiran) [Annahl 106]

menunjukkan bahwa siapa yang tidak meyakini kekufuran, dan dia menyatakan dengan jelas kekufuran itu, juga dengan mencela rasul rasul semua, dan berlepas diri dari mereka, mendustakan mereka tanpa ada paksaan dan dia menyadari bahwa kekufuran itu bahwasanya dia tidak kafir, itu yang nampak menjadi pilihan Zamakhsari didalam al-Kasyaf-nya sesungguhnya dia menafsirkan –syarhu sadrihi- dengan jiwanya yang baik m(menerima kekufuran) dibarengi dengan keyakinan.semuanya ini dilarang dari sudut dua hal:

pertama: perkataan mereka berlawanan dengan firman Allah (sungguh telah kafir orang orang yang mengatakan sesungguhnya Allah itu ketiga dari tiga) [Almaidah : 73] telah ditetapkan sebagai kafir siapa yang mengatakan kalimat itu tanpa syarat. Maka keterpaksaan keluar dari ketetapan itu menurut nas dan Ijma’ sedangkan selain keterpaksaan masih tetap berada dalam ketetapan diatas. Sekiranya seorang mukallaf yang bebas memilih tidak ada paksaan mengatakan perkataan nasrani yang telah dinas qur’an sebagai kufurdan tidak meyakini kebenaran apa yang dikatakan dia tidak dikafirkannya itu dengan pengetahuan akan jeleknya perkataannya dia menjadi dosa yang paling besar dari berbagai sudut pandangdengaan firman Allah (sedang mereka mengetahui) [Azzuhruf 86]
mereka membalik dan menjadikan orang yang tidak tahu ( jahil) dengan dosanya sebagai seorang kafir. sedang orang yang tahu (‘alim), dia menolak dengan lisannya yang disertai pengetahuannya sebagai seorang Muslim.

Kedua bahwa hujjah mereka berporos diantara dua dalil yang dhonniyah (sangkaan) telah berselisih pada keduanya didalam cabang yang dhonni ( sangkaan) salah satunya : qiyas yang disandarkan atas orang yang terpaksa dan memutuskan bahwa keterpaksaan merupakan penyebutan yang terbuang seperti keberadaan orang yang mengatakan tiga ( maksudnya Allah itu satu dari tiga) . Sebagai nasrani. Ini sangat (lemah sekali) seprti ini tidak diterrima dalam pemahaman furu’ adhonniyah / cabang yang bersifat sangkaan.
Sedang kedua adalah : pemahaman yang umum ( akan tetapi siapa yang melapangkan dadanya dengan kekufuran) maka tidak ada hujjah bagi mereka dalam apa yang difahami dari sebuah perkataan ( mantuq). Secara Qot’iidan tepat. Dan dalam pemahaman menyelisihi yang mashur apakah dia termasuk hujjah dhonniyah (hujjah yang disangkakan) dengan kesepakatan bahwa ini bukan merupakan hujjah yang Qot’iyah (pasti) kemudian pada penetapan keumuman terjadi perbedaan. Sedang hujjah mereka dari keumumannya juga maka itu lebih lemah darinya..dst.

• Berkata Ibnu Qudamah AlMaqdesii rahimahullah dalam Al Muqnii (8/151) belajar sihir dan belajarnya adalah haram, tidak kami ketahui perbedaan diantara ahli ilmu.

Berkata sahabat sahabat kami: seorang penyihir menjadi kafir karena belajarnya, sedang perbuatannya kafir sama ada dia meyakini keharamannya atau membolehkannya. ..dst.
• Dalam alkhawi lil fataawaa:
Barang siapa yang kafir dengan lisan dengan ketaatan sedang hatinya tenang dengan imanmaka dia kafir. Dan tidak menjadi mu’min disisi Allah, pernyataan itu sesuai dengan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam ayat keterpaksaan pada surat Annahl.

Berkata Syaikh Muhammaad bin Abdul Wahab dalam Kasyfu Syubuhat : halm (22) setelah beliau mengingkari orang orang yang mengatakan bahwa kekufuran tidak terjadi kecuali dengan mendustakan ( takdzzib), mengingkari (ingkar) dan penolakan ( Juhud): “Lalu apa makna Bab yang sering disebutkan oleh para Ulama’ pada setiap madzhab ? bab (hukmul murtadz) yaitu orang islam yang kafir setelah keislamannya. Kemudian mereka para ulama’ menyebutkan berbagai macam kekafiran yang banyak, setiap macam bisa mengkafirkan seseorang. Dan bisa menghalalkan darah seseorang dan hartanya. Sampai mereka menyebut sesuatu yang mudah dalam pelaksanaannya, seperti kalimat yang diucapkan dengan lisannya tanpa diikuti hatinya, atau kalimat yang di ungkapkan dalam bentuk gurau dan main-main.

Dikatakan Juga: yaitu orang orang yang Allah berfirman pada mereka: (mereka bersumpah apa yang mereka katakan , mereka telah mengatakan kalimat kekufuran dan mereka telah menjadi kafir sesudah keislaman mereka). [Attaubah 78].apakah kamu tidak mendengar bahwa Allah telah mengkafirkan mereka dengan kalimat sedangkan mereka itu hidub di zaman Rasulullah saw. Berjihad bersamanya, berzakat, berhaji dan bertauhid?

Demikian pula dengan firman Allah pada mereka : (katakanlah apakah kepada Allah, ayatnya, dan Rasulnya kalian memperolokkan? Jangnlah kalian meminta maaf, kalian telah kafir setelah keislaman kalian) [Attaubah 65, 66] mereka adalah orang yang dijelaskan oleh Allah bahwasanya mereka kafir setelah keimanan mereka. Sedangkan mereka bersama Rasulullah diperang Tabuk, mereka mengtakan mengatakan suatu kalimat yang mereka telah ungkapkan dalam bentuk bermain main. ..dst

Syaikh abdul Wahab juga berkata dalam kitab Asyubuhat: hendaklah kalian memahami dua ayat dari kitab Allah, yang pertama: apa yang telah terdahulu dari firmannya: (janganlah kalian minta maaaf, kalian telah kafir setelah keimanan kalian) [Attaubah 66]. Apabila benar bahwa sebagian sahabat yang telah mengikuti peperangan dengan Rumawi bersama Rasulullah mereka menjadi kafir dengan sebab kalimat yang diucapkannya dalam bentuk gurau dan main main, maka menjadi jelas bagimu akan orang yang mengatakan kekafiran atau melakukan kekafiran karena takut berkurangnya harta, atau terancam kedudukannya, mereka lebih besar kekafirannya daripada orang yang hanya mengucapkan kekafiran dengan alas an gurau dan main main.

Ayat kedua adalah : ( barang siapa yang kafir kepada Allah setelah keimanannya kecuali siapa yang dipaksa sedang hatinya tenang dengan keimanan ) [Annahl 106]. Allah tidak memberikan dispensasi kepada mereka, kecuali siapa yang di paksa dan hatinya tetap tengna dalamkeimanan. Adapun selainnya seseorang telah kafir setelah keimanannya, sama adaa dia melakukan itu karena takut, atau khawatir dengan negaranya, keluarganya, dan kerabat dekatnya, atau hartanya, atau dia berbuat dalam bentuk gurau dan main main. Atau yang lainnya dari tujuan tertentu. Kecuali orang yang terpaksaayat itu menunjukkan akan hal itu dari dua sudut:
Pertama firmannya ( kecuali siapa yang dipaksa) tidak ada yang dikecualikan melainkan orang yang terpaksa saja. Sebagaimana diketahui bahwasanya seseorang tidak membenci kecuali pada amal atau perbuatan, adapun keyakinan yang ada didalam hati tidak ada seorangpun yang bisa memaksanya.

Kedua : firman Allah ( yang demikian itu karena mereka lebih mencintai kehidupan dunia daripada akherat) [An-Nahl 107] dijelaskan bahwa kekufuran dan adzab tidak akan terjadi karena sebab keyakinan dan kebodohan atau kebencian kepada agama, atau kecintaan kepada kekafiran . akan tetapi sebabnya bahwa itu semua mereka menginginkan kehidupan dunia dan lebih mengutamakannya dari agama. ..dst.

• Berkata cucunya Asyaikh Sulaiman bin Abdullah dalam kitabnya (Attaudhih ‘an Tauhiidil Khollaq fi jawaabi Ahli al-Iraq) hlm 42: “murtadz secara syar’ii : orang yang kafir setelah keislamannya dengan ucapan, atau keyakinan atau perbuatan”.
Berkata pada hlm: 101
Sebagaimana kekufuran itu bisa terjadi dengan keyakinan maka kekufuran juga bisa terjadi lewat perkataan, seperti mencela Allah, atau Rasulnya, atau agamanya atau memperolokkan denganya. Allah berfirman : ( katakanlah apakah kepada Allah, ayatnya, dan Rasulkan kalian memperolok-olokkan . janganlah kalian meminta maaf, kalian telah kafir setelah keimanan kalian) [Attaubah 65, 66]
Kekufuran juga bisa terjadi lewat perbuatan: seperti membuang Mushaf ditempat kotoran, dan sujud kepada selain Allah dan yang lainnya dan jika kamu dapatkan padaanya Aqidah maka perkataan dan perbuatan keduanya lebih diunggulkan karena keduanya tampak”. ..dst.

Beliau berkata juga dalam kitabnya (Addalaail) : para Ulama’ telah bersepakat bahwa siapa yang berbicara dengan kekufuran dalam keadaan main main bahwasanya orang itu telah kafir”.
• Berkata Asyaikh Hamdi bin Ali bin ‘Atiq rahimahullah membantah kepada siapa yang menyangka bahwasanya seseorang tidak menjadi kafir disebabkan ucapan kekafiran. Kecuali bila dia meyakininya dan hatinya lapang jiwanya dalam keadaan baik: “semoga Allah membunuh kamu wahai Bahaim” , jika kamu menyangka bahwa dia tidak kafir kecuali yang melapangkan dadanya untuk kekafiran maka apakah seseorang mampu untuk memaksa seseorang untuk merubah aqidah lalu dadanya lapang untuk kekafiran – kemudian dia menunjukkan ayat keterpaksaan pada surat Annahl – insyaAllahakan kami terangkan bahwa ayat itu menunjukkan akan kekufuran siapa yang mengatakan kekufuran dan melakukan kekufuran walaupun didalam batinnya membenci selama dia tidak dalam keadaan terpaksa, adapun orang yang melapangkan dadanya untuk kekufuran , dan jiwanya dalam keadaan baik dan ridho dengannya maka dia adalah kafir musuh Allah dan Rasulnya walaupun tidak melafadhkan kekufuran dengan lisannya dan tidak melakukan dengan anggota badannya”.
Beliau berkata juga dalam membatilkan perkataan itu juga: “ini bertentangan dengan akal yang sehat, dan dalil naql yang sahih , dan berjalan pada jalan selain jalannya orang-orang mukmin. Sesunggunya kitab Allah, Sunnah Rasul, dan Ijma’ Ummat telah bersepakat bahwa siapa yang berkata kekufuran, atau melakukan kekufuran, dan tidak disyaratkan kelapangan dada untuk kekufuran maka tidak dikecualikan dari itu kecuali karena keterpaksaan. Adapun orang yang melapangkan dadanya yaitu membuka untuk kekafiran, melapangkannya, dan jiwanya dalam keadaan baik , dan ridho maka dia ini adalah kafir musuh untuk Allah, dan Rasulnya walaupun tidak melafadhkan dengan lisannya dan tidak melakukan dengan anggota badannya…hlm 59.
• Berkata Syaikh Abdurrahman bin Husain bin Ali Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam (Ad-durari Assuniyati) juz ringkasan tentang beberapa bantahan hlm (214):
“Begitu juga telah di sebutkan oleh para Fuqoha’ tentang hokum Murtadz bahwasanya seseorang terkadang telah kafir dengan perkataan dan perbuatan yang ia lakukan walaupun bersyahadat “laa ilaaha illa Allah wa anna Muhammad Rasulullah”, menunaikan sholat, melaksanakan puasa, dan bersedekah, dia menjadi murtadz yang menyebabkan amal-amalnya sia-sia baik yang dikatakan atau yang diperbuat, khususnya jika orang itu mati dalam keadaan itu, maka sia-sianya seluruh amal secara ijma’. ..dst.
• berkata Al Qonna’ii dalam (Alhaqiqotu Iman) hlm 90. : kemudian mereka telah mengatakan – tanpa dalil yang bisa dipertanggung jababkan- bahwa seorang muslim walaupun dia melakukan suatu perbuatan tidaklah dia kafir tidaklah dia menjadi kafir dengannya , selama keyakinannya masih benar. Mereka menolak makna itu terjadi pada seluruh amal dan tidak membedakan antara amal kufur dengan amal ma’siat, mereka menjadikan syarat rusaknya keyakinan dalam mengkufurkan setiap perbuatan dari perbuatan perbuatan anggota badan , amal apa saja.
Yang benar bahwa permasalahan ini memiliki rincian kita harus membedakan antara amal yang mengkafirkan pelakunya dan antara amal yang ma’siat secara umum, karena melakukan perbuatan dari perbuatan kufur yang jelas bisa mengeluarkan dari millah – dalam keadaan tetaptidak ada perintangnya- yaitu dengan urgenssi kepentingan rusaknya hati maka tidak diragukan lagi, tanpa menjelaskan atau tanpa bermaksud padanyaa ini merupakan ketetapan apa yang nampak dari keterangn Syariah untuk melazimi antara yang dhohir dan yang batin…”dst.

Ingatlah antara perbedaan ini dengan perkataan Murji’ah disini ditetapkan sebagai hokum, adapun Murji’ah mereka menjadikan sebagai hukumyang terikat dan syarat untuk kekafiran.

Disini disebutkan kerusakan keyakinan, para Ulama’ memasukkanitu pada hati sebagai tambahan kepada pembenaran, adapun para Murji’ah mereka membatasi kerusakan pembenaran itu pada penolakan dan pendustaan (Aljukhdu au Attakdzib)

Ini merupakan pembahasan bab yang sangat luas, sekiranya kita mengarah kesana dan mengikutinya pastilah akan panjang tempatnya dan sangat tidak cukup untuk seperti lembaran ini. Ini merupakan persoalan yang mashur didalam kitab para ahli ilmu dan aku tidak menyangka tersembunyi dari kalangan para pemula akan tetapi mereka bersulit sulit dan hawa nafsulah yang membutakan dan menulikannya..
• Pengikut Hanafi misalkan- menyangka bahwasanya mereka menyelisihi Jumhur dalam perbuatan (amal) dan masuknya amal dalam penamaan iman- namun bersamaan dengan ini mereka mengkafirkan banyak hal dari apa yang dikatakan seseorang dengan lisannya, atau dilakukan dengan anggota badannya seperti menggunakan dengan gesper (ikat pinggang) yang biasa dikenakan nasrani, atau menghadiahkan telur kepada Majusi pada tahun baru mereka, atau menggunakan perkatan Allah menggantikan perkataannya seperti seseorang mengatakan ditengah keramaian orang: (fajama’naahum jam’aa) [Al-Kahfi :99] atau berseteru dalam persoalan harta dan dikatakan kepadanya: “laa haula walaa Quwwata illa billah”. Dan dia berkata: “Apa yang aku perbuat dengan Laa haula (laa haula) artinya tidak memakan roti. atau berkata: satu piring nasi lebih baik dari menuntut ilmu. Atau dia berkata: aku penuhi panggilanmu atas orang yang berkata : wahai nasrani, wahai kafir atau berkata kepada anaknya: wahai anak Majusi, wahai anak Yahudi atau berkata: nasrani lebih baik dari pada kaum muslimin. Atau mengatakan : penguasa di zaman kita itu adil, lalu menamai para penguasa itu sebagai orang Dholim yang adil atau berkata: “sekiranya seorang fulan masuk surga aku tidak akan masuk kepadanya”. …dan permisalannya banyak sekali pada kitab kitab mereka. Mereka adalah manusia yang paling banyak bicara dalam bab ini. Dan telah dikumpulkan perkataan perkataan mereka yang banyak itu oleh Muhammad bin Ismail Arrosyiid Alhanafii dalam kitabnya. ( albadru Arrosyid fialfaadh almukaffirah) silahkan dirujuk kepada kitabnya jika menginginkan.

• Seperti itu juga banyak di kalangan Syafi’ii..berkata Taqiyyuddin Abu Bakar bin Muhammad AlhusainiAsyaafi’ii dalam kitabnya ( Kifaayatul Akhyar fii Ghoyatil Ikhtishor) tentang definisi : Arriddah: yaitu kembali kepada kekafiran dari islam dan memutus islam, bisa terjadi dengan perkataan, dan terkadang dengan perbuatan, dan terkadang dengan keyakinan, setiap satu dari tiga jenis ini memiliki beberapa persoalan hampir-hampir tidak bisa diringkas… “Kemudian sejumplah perkataan dan perbuatan yang mengkafirkan sesuatu yang terjadi pada banyak hal seperti pada contoh hal-hal yang kami telah kemukakan kepadamu akan perkataan orang-orang hanafi. ..diantara perkataan itu 92/431: “Sekiranya melakukan suatu perbuatan, kaum muslimin telah bersepakat bahwasanya semua perkataan yang tidak keluar kecuali dari orang kafir, walaupun dia menyatakan dengan terang-terangan akan keislamannya dan perbuatannya. Seperti sujud kepada salib atau berjalan di gereja bersama jamaah gereja dengan pakaian mereka yaitu gesper dan yang lainnya maka perbuatan dan perkataan itu telah menyebabkan seseorang menjadi kafir ”. ..dst

Ibnu Hajar Al-Haitami As-Syaafi’ii telah menulis tentang mukafirot (hal hal yang menyebabkan kafir ) dengan tulisan yang spesial dia beri nama: Al i’lam bi-Qowaati’ii Al-Islam) disebutkan dari bab ini banyak hal dari madhzhab Syafi’ii dan beberapa perkataan dari pengikut Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah.
• AlMalikiyah juga berpendapat demikian, Qodhi ‘Iyadh telah menyebutkan pada akhir kitab ( As-Syafaa bita’riifi Al-Musthofa) telah menyebutkan sejumplah perkataan yang mengkafirkan dan di terangkan dengan naql ijma’ padanya.
• Begitu juga hal yang dinisbatkan kepada pengikut Hambali, mereka telah mengoleksi dalam bab hokum orang murtad, perkataan dan perbuatan siapa yang mengeluarkannya (menyatakannya) dihukumi dengan kekafiran…silahkan dirujuk pada Al Iqna’ dan syarahnya dalam perkataan atas orang yang membatalkan islam dan dihukumi sebagai murtad. Mereka telah menyebut dari apa yang membatalkan dengannya Al-Islam lebih dari empat ratus hal yang membatalkan …kebanyakan dari bab ini.