Murjiah ada tiga jenis:
– kelompok yang mengatakan irja’ dalam iman, taqdir sesuai dengan madzhab Qodariyah dan Mu’tazilah.
– Kelompok yang mengatakan irja’ dalam iman dan aljabar dalam amal sesuai madzhab Jahmiyah.
– Kelompok ketiga keluar dari kelompok Jabariyah dan Qodariyah mereka adalah pecahan yang biasa memberi nama: AlYunusiyah, Alghosaniyah, Atsaubaniyah, Attaumaniyah, dan AlMurisiyah.
Dinamai Murji’ah karena mereka meninggalkan amal dari dari iman. Irja’ sendiri maknanya adalah Atta’khir. Artinya meninggalkan. Dikatakan (أرجيته وأرجأته أى arjaituhu wa arja’tuhu ai Akhortuhu. (mengakhirkan/ meninggalkan)

Sedangkan murji’ah dalam bab imam dibagi menjadi dua:
Pertama : Ghulatul Murji’ah ( Murji’ah Mutakallimun)
Kedua : Murji’atul Al-Fuqoha’.

Adapun Murji’ah AlMutakallimun : Jahm bin Shofwan dan orang yang mengikutinya. Mengatakan bahwa Iman itu hanya pembenaran dengan hati, dan ilmunya (pengetahuannya) dan tidak memasukkan amal hati sebagai bagian dari keimanan. Dan mereka menyangka bahwasanya manusia itu terkadang bias menjadi seorang mukmin sempurna iman dengan hatinya. Dengan itu ia mencela Allah dan Rasulnya, memusuhi walinya Allah, dan berwali dengan musuh musuh Allah, menghancurkan masjid, menghinakan mushaf, dan orang orang mukmin sejelek jelek penghinaan. Sebaliknya memuliakan orang kafir yang setinggi tingginya. Mereka mengatkan bahwasanya ini hanya ma’siat yang tidak menghilangkan keimanan yang ada didalam hatinya, bahkan dia melakukan ini sedang didalam batin disisi Allah sebagai Mukmin.

Mereka mengatakan : sesungguhnya telah ditetapkan didunia ini dengan hokum hokum kafir, karena perkataan ini merupakan tanda tanda kekufuran.

Apabila dipaparkan kepada mereka tentang kitab, sunnah dan Ijma bahwasanya satu orang dari mereka menjadi kafir dengan hal hal diatas, disiksa diakherat. Mereka mengatakan bahwa ini merupakan dalil akan lenyapnya tasdiq (pembenaran) dan ilmu yang ada pada hatinya. Kekufuran pada sisi mereka merupakan sesuatu yang satu saja yaitu kebodohan, dan Iman padanya juga satu saja yaitu ilmu. Atau disebut dengan mendustakan atau membenarkan. Sesungguhnya mereka saling berselisih apakah pembenaran hati bukan dari ilmu, atau itu itu juga. Ini dibarengi dengan perkataan yang paling rusak yang dikatakan dalam iman . kebanyakan alhukalam berpaham seperti ini dan sudah dikafirkan oleh salaf seperti Waki’bin Jarrah, dan Ahmad bin Hammal dan Abu Ubaid dan yang lainnya siapa yang mengatan dengan perkataan ini.

Mereka mengatakan bahwasanya Iblis kafir dengan nas Al-Qur’an akan tetapi dikafirkannya karena menyombongkan diri dan tidak melakukan sujud untuk adam bukan karena dia mendustakan khabar. Begitu juga Fir’aun dan kaumnya. Allah berfirman : ( Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan -mereka- padahal hati mereka meyakini –kebenaran- nya maka perhatikanlah betapa kesudahan orang orang yang berbuat kebinasaan) [An-Naml: 14]

Berkata Musa Alaihisalam untuk fir’aun: (Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mu’jizat-mu’jizat itu kecuali tuhan yang memelihara langit dan Bumi sebagai bukti –bukti yang nyata, dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai fir’aun seorang yang akan binasa.)[Al-isra’: 102] itulah Musa yang selalu membenarkan berkata kepadanya dengan kalimat diatas. Itu menunjukkan bahwa fir’aun mengetahui bahwasanya Allah telah menurunkan ayat ayat sedang dia termasuk ciptaan Allah yang paling besar pembangkangannya, melampoi batas, karena rusaknya keinginannya dan tujuannya, bukan karena tidak adanya ilmu. Allah berfirman (Sesungguhnya Fir’aun telahberbuat sewenang wenang dimuka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki lakimereka, dan membiarkan hidup anak anak perempuan mereka, sesungguhna fir’aun termasuk orang orang yang berbuat kerusakan) [Al-Qashos : 4]
Allah berfirman: (dan sesungguhnya jika kamumendatangkan kepada orang-orang Yahudi dan nasrani yang diberi Al-Kitab (taurat dan injil) mengenal Muhammad sebagaimana mereka mengenal anak anak mereka sendiri.

Demikianlah orang-orang Musrik yang Allam mengfirmankan tentang mereka: (..karena mereka sesungguhnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang dhalim itu mengingkari ayat Allah) [Al-An’am 33]

Adapun Murji.atul Fuqoha’ mereka adalah orang orang yang mengatakan iman itu adalah pembenaran dalam hati, perkataan dengan lisan, sedang amal tidak termasuk bagian darinya. Dari mereka adalah kelompok AlKufah dan para penghambanya, perkataan mereka tidak seperti perkataan Jahmi, mereka mengetahui bahwasanya manusia tidak bias menjadi seorang mu’min jika beluam berbicara dengan iman, dengan kemampuannya padanya. Mereka mengetahui bahwa Iblis, Fir’aun dan yang lainnya adalah kuffar karena pembenaran dalam dalam hatinya (akan kekufuran). Akan tetapi mereka tidak memasukkan amal hati dalam keimana mereka bersesuaian dengan perkataan jahmiyah. Mereka juga tidak mengatakan iman itu bertambah atau berkurang karena sebab perbuatan. Akan tetapi mereka mengatakan bahwa penambahan iman itu sebelum kesempurnaan tasri’ (perundang undangan) dengan maksud bahwasanya tatkala Allah menurunkan ayat maka wajib membenarkan ayat itu. Maka bergabunglah pembenaran (tasdiq) itu kepada pembenaran (tasdiq) sebelumnya. Akan tetapi setelah sempurnanya apa yang di turunkan Allah tidaklah tinggal keimanan yang lebih utama satu dengan yang lain, akan tetapi keimanan manusia itu sama, jadi keimanan orang terdahulu yaituAbu Bakar dan Umar seperti keimanan orang yang paling durhaka dari manusia seperti AlHajjaj dan Abu Muslim AlKhurrosani dan selain dari keduanya.

Murji’ah dizaman kita sangat banyak, baik dikalangan Awam atau dikalangan orang orang yang berilmu (atau orang yang menyandarkan dirinya kepada ilmu)

Diantara perkataan murjiah awam yang paling mashur adalah : (iman itu didalam hati) dan tidak tergambar didalam perbuatan, bahkan meremehkannya dan menghinakannya dan meninggalkannya dengan dalil menyembunyikan kebaikan hati dan kemurnian niat.

Adapun murji’ah yang menyandarkan kepada agama atau da’wah yang akan kita bicarakan didalam kitab ini. Kebanyakan bukan dari ta’rif yang dinamai Iman. Mereka juga mengetahuinya pengertian iman yang benar sebagaimana mereka mengatakan: keimanan itu adalah perkataan dengan lisan, meyakini dengan hati, dan melakukan dengan anggota badan. Atau mereka mengatakan bahwa iman itu perkataan dan perbuatan dan itu merupakan perkataan ahlu sunnah tentang iman.

Akan tetapi ketikan turun dalam realita dan dari sudut perbuatan khususnya denga hal yang membatalkan keimanan maka akan nampak bagi kamu bahwa rukun amal yang ditetapkannya dalam pengertian iman diremehkan pada mereka bahkan mereka hampir hampir sampai kepada derajat membuang atau meniadakan.

Betul mereka mengatakan- kebanyakan mereka- bahwasanya iman itu bertambah dengan ketaatandan menjadi berkurang dengan ma’siat sebagaimana yang dikatakan ahlu Sunnah. Akan tetapi semua dosa menurut mereka hanya mengurangi kesempurnaan keimanan saja. Dan tidak ada satupun yang membatalkan pokok dari keimanan, mereka mengecualikan dalam satu hal saja yaitu penolakan (aljuhdu) dan penghalalan ( istihlal) atau meyakini ( al-I’tiqod) demikianlah seperti apa yang diungkapkannya walaupun dosa atau amal, yang demikian itu padahal nabitelah menerangkannya: keimanan itu ada tujuh puluhan lebih cabangnya( dalam sebuah riwayat Atturmudhii (bab)dan paling utamanya (menurut Turmudhii, adalah orang yang paling tingginya adalah Perkataan Laa ilaaha illa Allah dan yang paling rendahnya adalah membuang duri (penghalang) dari jalan. Malu termasuk cabang dari iman. HR Muslim dan para Ahlu sunan dari Hadits Abu Hurairah.

Maka tidak semua cabang iaman dan bab babnya itu sama satu dengan yang lain, cabang (laa ilaaha Illa Allah) tidak sama dengan cabang (alhayak- malu-) atau (membuang duri dari jalan)

Akan tetapi hilangnya dari salah satu cabang itu hanya akan mengurangi keimanan saja seperti malu.
Darinya pula ada yang bias membatalkan keimanan seperti cabang (laa ilaaha illa Allah)

Sedang khowarij dan orang yang sama seperti mereka dan mengikuti mereka dari kalangan telah menjadikan ketergeliciran dari suatu cabang iman dari cabang cabang iman mana saja bisa membatalkan iman dan menggelincirkan dari pokok keimanan.

Maka datanglah Murji’atul Asri ( istilah untuk orang yang berpaham seperti Murji’ah di zaman modern – mereka membantah atas pemahaman para khowarij itu dan Madzhabnya. Dan mereka menjadikan ketergelinciran dari cabang iman semuanya hanyalah akan mengurangi kesempurnaan iman saja. Tidak ada satupun ketergelinciran itu yang akan membatalkan dari pokok iman kecuali yang berkait dengan penolakan (jukhdun) keyakinan ( I’tiqoodun)
Ketahuilah kedua kelompok itu ( maksudnya adalah Khowarij dan Murji’atul Asri ) dua duanya sama sesat.

Adapun ahlu haq (pencari kebenaran), kelompok yang selamat, kelompok yang ditolong Allah mereka bersikap seimbang dalam hal iman dan kekufuran… maka cabang iman menurut versi mereka ada yang berpengaruh pada kesempurnaan iman saja, dan tidak menggelincirkannya dari pokok keimanan. Macam ini ada dua bagian, pertama: apa apa yang termasuk dalam kesempurnaan iman yang bersifat disukai (sunnah) yang kedua adalah apa apa yang termasuk kesempurnaan iman yang wajib.

Dari cabang iman itu juga ada yang menggelincirkan dari pokok iman dan membatalkannya..kemimanan tentang itu menurut mereka ada tiga bagian:
– apa apa yang termasuk dari kesempurnaan iman yang berderajat mustahab (disenangi) yaitu apa-apa yang disenangi syara’ dan tidak tiberikan ancaman bagi yang meninggalkannya.
– Apa-apa yang termasuk dari kesempurnaan iman yang berderajat Wajib. Yaitu apa apa yang diancam oleh syara’ bagi orang yang meninggalkannya. Ancaman tidak sampai kepada derajat kekufuran.
– Apa apa yang termasuk pokok iman, dia terdiri dari setiap cabang yang menggelincirkan keimanan dan membatalkan keimanan dengan tergelincir dari cabang tersebut.

Tidak bisa dipastikan dengan sesuatu dari hal hal itu apakah dia termasuk macam yang ini atau yang itu kecuali dengan dalil syar’ii dan nas dari Allah atau Rasulnya: ( maha suci Allah tidak ada ilmu bagi kami kecuali apa yang telah engkau ajarkan kepada kami) [Al-Baqorqh 32]

Kelompok murji’ah terdahulu yang paling dekat dengan kelompok murji’ah asri modern dalam bab iman dan kekufuran adalah kelompok murji’ah Al-Murisiyah, dan Murji’atul Baghdad . Mereka adalah pengikut Basyar bin Ghiyats Al-Murisii yang mereka mengatakan tentang iman sebagai berikut: keimanan itu adalah pembenaran dengan hati, lisan dan semuanya. Dan kekufuran itu adalah penolakan (alJuhdu) pengingkaran (alingkar). Makanya mereka menyangka bahwa sujud kepada arca bukanlah perbuatan kufur akan tetapi menunjukkan kepada kekufuran.

Yang demikian itu dikarenakan Murji’ah asri dizaman kita ini tidaklah melihat padanya terdapat kufur amali yang mengeleluarkan dari millah kecuali bila padanya terdapat penolakan Juhud), meyakini (I’tiqod) dan menghalalkan (istihlal) maka itu menyebabkan kekafiran.

Sama saja itu termasuk dari pencelaan terhadap Allah , atau sujud kepada berhala, atau pembuatan hokum dan perundang undangan (tasri’) yang menyamai Allah, atau mempermainkan dengan Agama Allah …itu semua menurut murjia’ah tidaklah kekufuran pada perbuatannya itu, akan tetapi dia merupakan bukti bahwa pelakunya meyakini kekufuran, maka yang disebut kekufuran menurut murji’ah asri adalah keyakinannya (I’tiqoduhu) atau penolakannya (juhuduhu) atau penghalalannya ( istihlaaluhu).
Dengan demikian mereka telah membuka kejahatan yang besar kepada keluarga islam menjadi ruang penetrasi lewatnya setiap ateis, zindiq, dan orang yang selalu mencela dalam agama Allah dengan rasa aman dan tenang. Dan mereka selalu menutup nutupi (kejelekan) para thaghut taghut yang murtad. Dan mereka membela untuk para thaghut dengan syubhat syubhat yang tidak pernah terbetik pada hati para taghut dan tidak pernah didengar sebelumnya. Mereka mendapatkan tentara yang ikhlas mukhlasin larut dan membela atas kebatilan mereka hal itu dilakukan semua oleh murji’atul asri …oleh kaena itu para salaf menjuluki tentang murji’ah itu sebagai: agama yang menakjubkan bagi para raja. Sebagian salam mengatakan tentang fitnah Murji’ah dengan perkataannya: Fitnah murji’ah itu lebih ditakutkan untuk umat ini daripada fitnah Khowarij.
Mereka mengatakan : “khowarij lebih bisa di toleran pada sisi kami katimbang Murji’ah. Ini bukanlah perkataan tidak karuan tentangnya akan tetapi itu merupakan kebenaran dan kejujuran. .. hal yang dijadikan alasan bagi khowarij hingga menjadi berlebih-lebihan dan menyelewengnya adalah bermula dari kemarahan mereka kepada apa yang diharamkan Allah dan hudud hududnya- mereka menyangka – bahwa Murji’ah hanya melakukan madzhab mereka dan melawan hudud-hudud Syar’ii melonggarkan ikatan ikatan dan longgar dalam ketetapan ketetapan agama. Yang membuka pintu kemurtadan untuk mempermudah bagi orang kafir dan Zindiq.

Kita menyaksikan pada zaman kita ini sekarang berbagai reaksi yang banyak sekali tentang khowarij asri (khowarij modern) dan orang orang yang berlebihan dalam mengkafirkan (seseorang atau kelompok) sehingga penuhlah pasar pasar itu dengan kitab kitab , risalah risalah seputar masalah itu. Maka menguatlah kebanyakannya dalam bentuk tuduhan dan lemah dalam mensikapi dengan penuh keadilan dan kejujuran.

Akibatnya adalah sangat sedikit kita mendapati kitab yang menjabarkan dengan baik tentang murji’ah khususnya murji’atul asri dan para pelakunya dan mewaspadai dari kerancuaan dan syubhat mereka sebagaimana diwaspadainya dari syubhat khowarij.

Semoga kitab kita ini bisa menutup sedikit akan kekurangan dalam bab ini atau melakukan hal baik sehingga menjadi beranilah para ahlu ilmi untuk menulis yang didalamnya terdapat keterangan tentang kebenaran dan menyingkap kebohongan kebatilan dan syubhanya para ahlu bid’ah yang telah mengubah atau merusak kebenaran yang nyata…demi Allah aku memohon untuk dibukakan denannya telingan yang tuli, mata yang buta, hati yang lalai dan menjadikannya hanya untuk mendapatkan wajahnya yang mulia, segala puji bagi Allah diawal dan diakhirnya.